FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO.42/DSN-MUI/V/2004

kartu

kartu kredit

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO.42/DSN-MUI/V/2004

TENTANG SYARIAH CHARGE CARD

DALAM PANDANGAN YURISPRUDENSI

A.   Pendahuluan

 

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberi aturan-aturan secara menyeluruh dalam rangka mengatur kegiatan manusia dimuka bumi. Aturan-aturan itu dengan indah dicantumkan dalam Kitab Suci  Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah dengan Sunnahnya.  Dengan demikian, tidak ada satu sisipun dari kehidupan manusia yang lepas dari aturan Islam, baik  masalah ibadah maupun muamalah.

Salah satu masalah muamalah yang mendapat perhatian cukup besar dalam Islam adalah masalah ekonomi. Sebagai agama yang sempurna, maka seyogyanya Islam dapat memberikan pedoman hidup secara menyeluruh bagi manusia dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Begitu banyak firman Allah yang diturunkan untuk mengatur manusia tentang bagaimana cara menjalankan kegiatan ekonomi dengan baik yang diridhoi oleh Allah SWT. Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Allah SWT adalah masalah Riba, sebagaimana firmannya:

” ….. dan  Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…..” (Al Baqarah (2) :275)

 

Oleh karena itu, dalam melaksanakan kegiatan muamalah dibidang ekonomi, seorang muslim harus menghindari praktek-praktek ribawi.

Namun terkadang, ada kalanya terdapat praktek-praktek muamalah yang dinilai oleh sebagian pihak tidak sesuai dengan prinsip syariah namun pihak lain dianggap sesuai dengan syariah dan telah dikeluarkan fatwa halal oleh Majelis Ulama Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan muamalah dibidang ekonomi dengan menggunakan charge card.

B.   Pembahasan

Pengertian Charge Card

Secara etimologis, charge Card terdiri dari dua suku kata yaitu:

  1. Chartes, χάρτης (a sheet (‘chart’) of writing-material (as to be scribbled over))[1] sepotong material yang tertera tulisan.
  2. Charge adalah ongkos muatan, harga  [2]

Dengan demikian, secara bahasa, Charge Card dapat diartikan sebagai sebuah potongan material kecil yang bertulisan yang digunakan untuk proses tertentu yang dengannya dibebankan biaya/harga tertentu.

MUI dalam fatwanya menambahkan kata Syariah didepannya sehingga menjadi Syariah Charge Card  yang diartikan sebagai sebagai fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang kartu (hamil al-bithaqah) sebagai alat bayar  atau pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan.

Perbedaan Charge Card dengan Credit Card

Perbedaan antara Syariah Charge Card dengan Kredit Card  yaitu terletak pada penggunaan kata Charge dan Credit. Kata Credit  berasal dari bahasa Latin “Credere’ yang berarti loan, debt, what is lent atau “creditum”  yang berarti  berati lend to, make loans, give credit; trust, entrust; commit[3]. Sedangkan kata Charge yang berarti ongkos muatan , harga.

Dengan demikian, dari pengertian secara bahasa sudah jelas bahwa Charge Card berbeda dengan Credit Card. Jika Charge Card adalah bukan bersifat memberi pinjaman namun hanya memberi suatu jasa dengan dibebankan ongkos/imbalan seharga tertentu. Sedangkan Credit Card adalah bersifat memberi pinjaman yang didasarkan pada kepercayaan.

Namun demikian, menurut terminology seringkali Charge Card disamakan dengan Credit Card.  Prof.Dr. Abdullah al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah ash-Shawi dalam jurnal yang berjudul Hukum Kartu Kredit Dalam Jual Beli[4] menganggap Charge Card sebagai salah satu varian dari Credit Card yaitu kartu kredit yang tidak dapat diperbaharui. Adapun varian lainnya adalah Revolving Credit Card  yaitu kartu kredit yang dapat diperbaharui.

Lebih rinci dalam jurnalnya, Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah ash-Shawi mengungkapkan bahwa yang menonjol dari charge card adalah diharuskannya menutup total dana yang ditarik secara leng-kap dalam waktu tertentu yang diperkenankan, atau sebagian dari dana tersebut. Biasanya waktu yang diperkenankan tidak lebih dari tiga puluh hari, namun terkadang bisa mencapai dua bulan. Kalau pihak pembawa kartu terlambat membayarnya dalam waktu yang telah ditentukan, ia akan dikenai denda keterlam-batan. Dan kalau ia menolak membayar, keanggotaannya dicabut, kartunya ditarik kembali dan persoalannya diangkat ke pengadilan.

Sedangkan pada Credit Card Pemilik kartu ini diberikan pilihan cara menutupi semua tagihannya secara lengkap dalam jangka waktu yang ditoleransi atau sebagian dari jumlah tagihannya dan sisanya diberikan dengan cara ditunda, dan dapat diikutkan pada tagihan berikut-nya. Bila ia menunda pembayaran, ia akan dikenakan dua macam bunga: Pertama bunga keterlambatan, kedua bunga dari sisa dana yang belum ditutupi. Kalau ia berhasil menutupi dana tersebut dalam waktu yang ditentukan, ia hanya terkena satu macam bunga saja, yaitu bunga penundaan pembayaran. Dana yang ditarik tidak akan terbatas bila pemiliknya terus saja melunasi tagihan beserta bunga kartu kreditnya secara simultan.

C.   Konsep Syariah Chage Card  menurut Fatwa DSN No. 42/DSN-MUI/V/2004.

Berdasarkan fatwa MUI No.42/SDN-MUI/V/2004, akad yang digunakan pada produk Syariah Charge Card adalah sebagai berikut:

  1. Untuk transaksi pemegang kartu melalui merchant, akad yang digunakan adalah akad kafalah wal ijarah.
  2. Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad qard wal ijarah.

Selain itu, dalam fatwa tersebut juga diatur ketentuan dan batasan syariah yaitu:

  1. Tidak boleh menimbulkan riba.
  2. Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat.
  3. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu.
  4. Tidak mengakibatkan utang yang tak pernah lunas.
  5. Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan financial untuk melunasi pada waktunya.

Adapun mengenai fee yang dibebankan kepada pemegang kartu terdiri dari:

  1. Iuran Keanggotaan (membership)

Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin pengunaan fasilitas kartu

  1. Merchant Fee (ujrah)

Penerbit kartu boleh mengambil fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan, pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al dayn)

  1. Fee Penarikan Uang Tunai

Penerbit kartu boleh mengambil fee penarikan uang tunai sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan.

Selain itu, Penerbit Kartu dapat mengenakan Denda Keterlambatan pembayaran (late Charge), dan Denda karena melampaui pagu (overlimit charge) tanpa seizin Penerbit Kartu. Dana yang berasal dari denda tersebut diakui sebagai dana sosial.

D.   Landasan Syariah yang Digunakan

Dalam fatwa tersebut, MUI menggunakan sejumlah Ayat Alqur’an, Hadist dan Pendapat Fuqaha sebagai landasan syariah dalam memberikan fatwa halal penggunaan Syaria Charge Card.

  1. Penggunaan prinsip Kafalah (penjaminan)  dalam transaksi charge card disandarkan pada dalil:
  2. Hadis Nabi Riwayat Bukhari dari Salamah bin Al-Akwa;

telah dihadapkan kepada rasulullah saw jenazah seorang laki-laki untuk dishalatkan. Rasulullah bertanya; ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Sahabat menjawab; ‘Tidak’ Maka beliau menshalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. Rasulullah pun bertanya; ‘Apakah ia mempunyai hutang?’ Mereka menjawab; ‘Ya’. Rasulullah berkata, ‘Salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau menshalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata. ‘Saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah’. Maka Rasulullah pun menshalatkannya jenazah itu

  1. Hadis Nabi riwayatkan Abu Daud, Trimizi dan Ibn Hibban:

“Za’im (penjamin) adalah gharim (orang yang menanggung).”

  1. Pendapat Fuqaha; antara lain dalam Kitab Mughni al-Muhtaj, jilid II:201-202:

“(Hal yang dijamin) yaitu utang (disiyaratkan harus berupa hak yang telah terjadi) pada saat akad. Oleh karena itu, tidak sah menjamin utang yang belum menjadi kewajiban … (Qaul qadim —Imam al-Syafi’i —  menyatakan sah penjaminan terhadap utang yang akan menjadi kewajiban), seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu yang akan diutangkan. Hal itu karena hajat. – kebutuhan orang –terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut.

Hadis nabi dan pendapat fuqaha tersebut diatas, menjadi sandaran MUI dalam  penggunaan akad Kafalah dalam transaksi Syariah Cahrge Card.

  1. Penggunaan Prinsip Ijarah disandarkan pada dalil:
  2. QS. Yusuf (12):72:

“Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja: dan barang siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.

  1. Hadis Nabi riwayat  Abu Daud dari Sa’d Ibn Abi Waqqash, ia berkata:

“Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya; maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.”

  1. Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w, bersabda:

“Barang siapa mempekerjakan  pekerja, beritahukanlah upahnya”

Selain itu, MUI juga menggunakan sejumlah dalil-dalil sebagai landasan dalam memberikan ketentuan batasan syariah dalam penggunaan Syariah Charge Card diantara :

  • QS. Al-Furqan (25):67:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah diantara yang demikian”

  • QS, AL-Isra’ (17):26-27:

“ … Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”

Kedua ayat tersebut diatas, jelas sekali terlihat bahwa Allah melarang umat islam untuk membelanjakan harta secara berlebih-lebihan dan melakukan pemborosan karena hal tersebut merupakan sifat syaitan. Oleh karena itu, dalam produk Syariah Charge Card diharuskan adanya penetapan pagu untuk menghindari adanya penggunaan secara berlebihan.

Adapun batasan syariah yang lain yang tertuang dalam fatwa MUI mengenai Syariah Charge Card adalah tidak boleh menimbulkan riba dan melakukan transaksi atas barang-barang yang haram dan maksiat. Ketentuan ini disandarkan pada dalil  QS. Al-Baqarah (2):275:

“Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang yang kemasukan syaitan lantaran(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang  yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”

 

 

 

Didalam fatwa ini, juga terdapat penggunaan Kaidah Fiqih diantaranya:

  1. 1.     “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang melarangnya”
  2. 2.     “Keperluan dapat menduduki posisi darurat”

Dari dalil-dalil yang digunakan diatas, jelas sekali bahwa penggunaan syariah charge card sesuai dengan syariah.

  1. E.    Kelemahan Fatwa DSN No.52/DSN-MUI/V/2004 tentang Syariah Charge Card

 

Atas fatwa yang dikeluarkan oleh SDN mengenai Syariah Charge Card terdapat kelemahan yang akan mengaburkan penerapan prinsip syariah atas produk tersebut yaitu dimungkinkannya pemakaian melampaui pagu (overlimit). Dengan dibolehkannya penerbit kartu mengenakan biaya dengan karena melampaui pagu, berarti memberi ruang baru penerbit kartu untuk menerapkan sistem teknologi penggunaan syariah charge card yang memungkinkan pemegang kartu untuk melakukan transaksi yang nilainya melebihi pagu yang telah disepakati. Ini tentu saja tidak sejalan dengan ketentuan “tidak mendorong pengeluaran yang berlebihan (israf) . Hal ini tentu saja akan bertentangan dengan dalil Al-Qur’an Surah Al-Furqan (67) dan AL-Isra’ 26-27, yang secara tegas melarang manusia dari perbuatan pemborosan atau menghambur-hamburkan harta.

  1. F.    Penutup

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa syariah charge card sesuai dengan prinsip syariah dengan ketentuan dan batasan:

  1. Tidak boleh menimbulkan riba
    1. Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat.
    2. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu.

Namun demikian, dalam fatwa yang ditetapkan oleh DSN tersebut diatas, terdapat celah yang memungkinkan penerbit syariah charge card  melakukan ketentuan yang melanggar prinsip-prinsip syariah seperti adanya transaksi yang berlebihan dan pembebanan biaya yang memberatkan pemegang kartu.

Referensi:

Al-Qur’an

Al-Hadist

Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI-Edisi Revisi Tahun 2006, DSN MUI –BI, 2006

Abu Muawiyah, Masalah At-Tawarruq, (http://al-atsariyyah.com/?p=537 : 15 December 2008.

Nibra Hosen, Tawarruq, http://nibrahosen.multiply.com/journal/item/21/Tawarruq:15 Februari 2008.

Zulkarnain bin Muhammad Sunusi, Jual Beli Dengan Cara Kredit, http://groups. yahoo.com/ group/nashihah/ message/41, 21 Desember 2008.

Adiwarman Karim, Bank Islam : Analisis Fiqih dan Keuangan, Karim Business Consulting, 2003.


[1] http://www.myetymology.com/english/card.html

[2] Webster’s Kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Daru Susilowati dan Lyncoln Saputra, Kharisma Publishing Group, Jakarta, 2008

[3] http://www.myetymology.com/english/

[4] http://afanza.multiply.com/journal/item/6/Hukum_Kartu_Kredit_Dalam_Jual_Beli

 

 

 

blogspot

Leave a comment »

HUKUM TAWARRUQ BERDASARKAN KAJIAN FIQIH TERPADU

HUKUM TAWARRUQ

BERDASARKAN KAJIAN FIQIH TERPADU

 

A. Pendahuluan

 

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberi aturan-aturan secara menyeluruh dalam rangka mengatur kegiatan manusia dimuka bumi. Aturan-aturan itu dengan indah dicantumkan dalam Kitab Suci  Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah dengan Sunnahnya.  Dengan demikian, tidak ada satu sisipun dari kehidupan manusia yang lepas dari aturan Islam, baik  masalah ibadah maupun muamalah.

Salah satu masalah muamalah yang mendapat perhatian cukup besar dalam Islam adalah masalah ekonomi. Sebagai agama yang sempurna, maka seyogyanya Islam dapat memberikan pedoman hidup secara menyeluruh bagi manusia dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Begitu banyak firman Allah yang diturunkan untuk mengatur manusia tentang bagaimana cara menjalankan kegiatan ekonomi dengan baik yang diridhoi oleh Allah SWT. Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Allah SWT adalah masalah Riba, sebagaimana firmannya:

” ….. dan  Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…..” (Al Baqarah (2) :275)

 

Riba dianggap sebagai sebuah kegiatan ekonomi yang zalim yang jauh dari nilai-nilai keadilan. Oleh karena itu, Islam menganjurkan Umat manusia untuk meninggalkan praktek-praktek ribawi. Selain firman Allah SWT diatas, terdapat begitu banyak hadist Rasulullah yang melarang Manusia untuk melakukan kegiatan ribawi.

Sebagaimana firman Allah diatas, bahwa Allah telah menghalalkan jual beli sebagai suatu cara bagi manusia untuk menjalankan kegiatan ekonomi dengan baik dan di ridhoi Allah SWT. Namun demikian, kebutuhan ekonomi manusia kadangkala tidak dapat terpenuhi dengan kegiatan jual beli mengingat terkadang manusia tidak memerlukan barang melainkan uang tunai yang dapat digunakan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup. Memang Islam telah memberi jalan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan uang tunai dengan meminjam kepada orang berpunya dengan prisip qard (tanpa tambahan/bunga). Namun demikian. Masalah akan timbul ketika tidak ada orang yang bersedia memberikan pinjaman qard, disatu pihak seseorang sangat membutuhkan uang tunai untuk menjalankan kegiatan ekonomi mereka baik untuk konsumsi maupun produksi.

Untuk mendapatkan uang tunai tanpa melakukan cara ribawi, beberapa pihak yang melakukan Tawarruq. Namun demikian, transaksi Tawarruq menjadi perdebatan oleh beberapa pihak mengenai kehalalannya. Sejumlah pihak berpandangan bahwa Tawarruq sebagai sebuah kegiatan yang dibuat-buat sehingga unsur ribanya tidak tampak padahal esensinya adalah kegiatan ribawi. Dilain pihak, Tawarruq dianggap hal yang diperkenankan dalam Islam sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan uang tunai.

Masih diperdebatkannya kehalalan Tawarruq inilah yang menjadi dasar bagi penulis untuk membuat makalah yang berjudul “ Hukum Tawarruq Berdasarkan Kajian Fiqih Terpadu

           

 

 

B.  Definisi Tawarruq

Dalam Bahasa Arab, akar kata dari tawaruq adalah “wariq” yang artinya : simbol atau karakter dari  perak (silver).  Kata tawarruq ini di gunakan untuk mengartikan,  mencari perak, sama dengan kata Ta allum, yang arti nya mencari ilmu, yaitu belajar atau sekolah. Kata Tawarruq dapat di artikan dengan lebih luas yaitu  mencari uang tunai dengan berbagai cara yaitu bisa dengan mencari perak, emas atau koin yang lainnya.  Secara literatur artinya adalah berbagai cara yang di tempuh untuk mendapatkan uang tunai atau likuditas. Istilah tawarruq ini di perkenalkan oleh Mazhab Hambali. Mazhab Shafi’i mengenal tawarruq dengan sebutan “zarnagah”, yang artinya bertambah atau berkembang. (Nibra Hosen : 2008)

Dalam Hukum Islam, tawarruq artinya adalah struktur yang dapat dilakukan oleh seorang mustawriq/mutawarriq yatiu seorang yang membutuh kan likuditas. Transaksi tawarruq adalah ketika seseorang membeli sebuah produk dengan cara kredit (pembayaran dengan cicilan) dan menjual nya kembali kepada orang ke tiga yang bukan pemilik pertama produk tersebut dengan cara tunai, dengan harga yang lebih murah. Ada 3 formasi dari  tawarruq: (Nibra Hosen 2008)

1.    Seseorang yang membutuhkan likuditas (uang tunai) membeli produk/barang/komoditi dengan cara kredit dan menjual nya kepada pihak lain dengan cara tunai, tanpa di ketahui oleh pihak pihak lain akan niat nya tersebut di atas.

2.    Seseorang (mutawarriq) yang membutuh kan uang tunai, memohon untuk di berikan pinjaman uang, dari penjual, yang menolak untuk meminjamkan uang nya, tapi penjual tersebut berkeinginan untuk menjual barangnya dengan cara kredit dengan harga tunai, lalu mutawarriq tersebut dapat menjual kembali barang tersebut kepada orang lain dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Kedua formasi transaksi tawarruq ini dapat di terima dan di izinkan oleh para Ulama tanpa ada nya perdebatan.

3.               Hampir sama dengan formasi no. 2, kecuali si penjual, menjual barangnya dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar kepada Mutawarriq, sebagai akibat dari pembayaran yang tertunda/dengan cicilan. Formasi ini masih diperdebatkan oleh para pakar Hukum ekonomi syariah.

Diagram 1[1]

Tawarruq (format asli)

Umar

Zaid

                                    1) Membeli aset

                                    Pembayaran secara cicilan

 

                                                      Pembayaran secara tunai  2) Menjual aset

Amru

 

 

 

Dalam dunia perbankan dewasa ini, Tawarruq diterapkan dalam bentuk yang telah dimodifikasi. Untuk menjalankan transaksi tawarruq, perbankan syariah melibatkan broker komoditi dalam penyediaan komoditi yang dijadikan sebagai obyek transaksi Tawarruq.

 

Diagram 2[2]

Tawarruq (format modifikasi)

 

Umar

1) Bank membeli komoditas dari Broker A seharga Rp. 10 juta secara tunai.

 

 

Umar

                  2) Bank membayar Rp. 10 juta

3) Bank menjual kembali komoditi kepada customer dengan harga Rp.10 juta ditambah keuntungan dengan pembayarans secara angsuran.

Umar

Umar

4) Broker B membeli seharga Rp.10 juta

 

 

 

C.  Perbedaan antara Tawarruq dan Inah

Letak perbedaan antar Tawarruq dengan Inah hanya pada tempat penjualan barang kembali. Kalau jual beli dengan cara Al-‘Inah penjualannya kembali kepada pihak penjual sedangkan Tawarruq penjualannya kepada pihak ketiga selain dari pihak penjual.

Akar kata dari inah adalah ayn (barang yang telah di beli) dapat menemukan jalan nya kembali kepada pemilik asalnya. Menurut kebanyakan dari para pakar Hukum Islam,  barang yang di gunakan adalah sebuah alat untuk melakukan hilah, yaitu rekayasa untuk menghindar dari hal hal yang di larang, seperti riba. Sebagian besar Ulama tidak membolehkan transaksi Jual beli Inah dan hanya sedikit saja yang membolehkan. Diantara Ulama yang melarang Inah adalah Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal.

Salah satu dalil yang menjadi sandaran para Ulama yang melarang Inah adalah Hadist yang diriwayatkan Abu Huiroiroh ra:

 

Jika kamu melakukan jual beli secara ‘inah, mengambil ekor sapi, rela dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Alloh SWT akan melimpahkan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Daud)

Diagram 3[3]

 

Bay’ Al Inah (Modus Operandi)

 

 

Bank

Customer

Menjual aset

                              (misal; sebidang tanah seharga Rp.150 juta,)-

 

 

 

 

Bank

Customer

Membeli kembali asset

                              (misal; sebidang tanah seharga Rp.100.000.000,)-

 

D.  Pendapat Para Ulama tentang Tawarruq

Ada dua pendapat dikalangan para ulama tentang hukum Tawarruq ini : (Abu Muawiyah : 2008)

  1. Hukumnya adalah boleh. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama dan pendapat Iyas bin Mu’awiyah serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dan ini yang dikuatkan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy , Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz , Syaikh Sholih Al-‘Utsaimin , Syaikh Sholih Al-Fauzan  dan keputusan Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy .

Ulama yang membolehkan Tawarruq bersandarkan pada kaidah umum bahwa hukum asal dalam jual beli adalah halal dan tercakup dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli”. (QS. Al-Baqorah: 275).

Dan dalam masalah Tawarruq ini tidak nampak bentuk riba baik secara maksud maupun bentuk, sementara manusia membutuhkan mu’amalah yang seperti ini dalam melunasi hutang, nikah dan lain-lainnya. Namun Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mensyaratkan bolehnya dengan beberapa ketentuan :

       Ia butuh untuk melakukan transaksi tersebut dengan kebutuhan yang jelas

       Sulit baginya mendapatkan keperluannya dengan jalan Al-Qardh (pinjaman), As-Salam maupun yang lainnya.

       Hendaknya barang yang akan ditransaksikan telah dipegang dan dikuasai oleh penjual.
Wallahu Ta’ala A’lam.

2.  Hukumnya adalah haram. Ini adalah riwayat kedua dari Imam Ahmad dan pendapat ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz serta dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Saudi Arabia .

C. Tawarruq Berdasarkan Kajian Fiqih Terpadu

 

    Dalam menentukan hukum suatu masalah dengan menggunakan fiqih terpadu, selain memperhatikan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah baik yang bersifat khusus maupun umum, juga memperhatikan qara’in ahwal baik manqulah maupun ghoiru manqulah.

 

    Dalil-Dalil

        Al-Qur’an

        QS. An Nisa (4) :29:

      ”Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu …

        Al Baqarah (2) :275:

”.. dan  Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

        Al Maidah (5):1:

“..Hai orang-orang beriman! Penuhilah akad-akad itu ..”

        Al-Baqarah (2) :280:

“..Dan jika (Orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan ..”

 

Dari dalil-dalil Al-Qur’an diatas, tidak satupun yang melarang transaksi Tawarruq bahkan dapat dijadikkan hujjah untuk membolehkannya.  Pada dasarnya, Tawarruq merupakan serangkaian transaksi jual beli yang terdiri dari jual beli secara tunai dan jual beli secara kredit (tangguh) dan sebagaimana dalil diatas secara jelas bahwa Allah menghalalkan jual beli baik secara tunai maupun secara tangguh.

 

 

       Al-Hadist

 

        Salah satu Hadist yang tercatat oleh al-Bukhari dan Muslim terbukti telah mendukung transaksi ini.  

Ketika salah satu petani kurma dari Khaybar datang dan membawa kan Kualitas Kurma yang tebaik kepada Nabi Muhammad SAW , Nabi bertanya kepada petani tersebut apakah semua buah kurma dari Khaybar sangat baik mutu nya. Petani ini menjawab tidak, saya menukar dua ukuran  (kg) kualitas kurma yang rendah untuk satu ukuran (kg) yang bagus, terkadang saya harus menukar 3 ukuran (kg) yang kulitas rendah untuk satu ukuran (kg) yang kualitas nya bagus.  Lalu Nabi Muhammad melarang petani itu untuk melakukan transaksi itu dan malah menyarankan untuk menjual semua kualitas rendah nya agar mendapat kan uang tunai (berupa koin perak pada jaman itu) dan lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli Kurma dengan kualitas yang bagus.

Hadist ini mengindikasikan di perkenankannya suatu metode untuk menghindari Riba. Semua media  jual beli dan syarat syarat  serta kondisi dari transaksi  jual beli sudah terpenuhi, bebas dari faktor faktor yang di larang. Niat untuk mendapat kan kualitas Kurma yang lebih bagus tidak membatal kan struktur nya. Dengan demikian, hal ini menunjukan legalitas dari transaksi jual beli dimana maksud dan niat yang berlainan menggunakan suatu media dapat di terima dan dilakukan dan bebas dari riba secara explicit dan implicit. Jadi untuk mendapatkan likuiditas dengan media ini (tawarruq) sudah seharus nya di perkenan kan apabila  memang di perlukan.”

 

Hadist-hadist lain yang juga mendukung dibolehkannya Tawarruq adalah sbb:

 

        Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabsa, ”Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. ” (HR. Al- Baihaqi dan Ibnu Maja, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

 

Dari hadist diatas selaras dengan Firman Allah SWT QS. An Nisa (4) :29. Dengan demikian, ketika pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi Tawarruq berdasarkan prinsip suka sama suka (suka rela) maka tidaklah mengapa untuk dilakukan. Adapun masalah adanya transaksi secara tangguh dengan harga yang lebih tinggi dari harga kontan yang menjadi perdebatan dalam menentukan hukum tawarruq dapat dijelaskan oleh hadist dibawah ini,

 

        ”Nabi besabda, ”Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu majah dan Suhaib)

 

Hadist diatas, dapat digunakan  untuk menjelaskan bahwa transaksi secara kredit (tangguh) pada struktur tawarruq tidak bertentangan dengan Syariat. Adapaun masalah adanya perbedaan harga antara penjualan secara tunai dan secara kredit, sebanarnya kondisinya  sama seperti murabahah yang banyak diterapkan oleh bank syariah saat ini dimana harga barang yang dijual lebih mahal dari harga kontannya bahkan besaran harga sangat bergantung dengan jangka waktu pembayaran.

 

Tentang perbedaan harga tunai dengan harga kredit ini, dapat kita simak kutipan tanya jawab antara seseorang dengan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Ketika ditanya tentang hukum membeli sekarung gula dan semisalnya dengan harga 150 Riyal SA sampai suatu waktu (denga kredit-pent) dan ia senilai 100 Riyal secara kontan, maka beliau menjawab:

 “Sesungguhnya Mu’amalah ini tidaklah mengapa, karena menjual secara kontan berbeda dari menjual secara kredit dan kaum muslimin terus menerus melakukan mu’amalah seperti ini. Ini adalah Ijma’ (kesepakatan) dari mereka tentang bolehnya. Dan telah syadz (ganjil/bersendirian) sebagian ulama, bila ia melarang adanya tambahan disebabkan karena (tambahan) waktu sehingga ia menyangka hal tersebut adalah bagian dari riba. Ia adalah pendapat tidak ada sisinya, bahkan tidaklah (hal tersebut) termasuk riba sama sekali karena seorang pedagang ketika ia menjual barang sampai suatu waktu (dengan kredit,-pent), ia menyetujui adanya penangguhan hanyalah karena ia mengambil manfaat dengan tambahan (harga) dan si pembeli rela adanya tambahan karena ada pengunduran dan karena ketidakmampuannya untuk menyerahkan harga secara kontan maka keduanya mengambil manfaat dengan mu’amalah ini dan telah tsabit (pasti/tetap) dari Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam sesuatu yang menunjukkan bolehnya hal tersebut…”. (Dinukil dari kitab Min Ahkamil Fiqhil Islamy Karya ‘Abdullah Al-Jarullah hal. 57-58 dengan perantara Bai’ut Taqsith karya Hisyam Alu Burgusy.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seekor kuda yang dia beli dengan harga 180 Dirham, lalu seseorang memintanya dengan harga 300 Dirham dalam jangka waktu (pembayaran) tiga bulan; apakah hal tersebut halal baginya.

Beliau menjawab : “Al-Hamdulillah, Apabila ia membelinya untuk diambil manfaatnya atau untuk ia perdagangkan maka tidaklah mengapa menjualnya sampai suatu waktu (dengan kredit,-pent). Akan tetapi janganlah ia mengambil keuntungan dari orang yang butuh kecuali dengan keuntungan yang wajar. Jangan ia menambah (harga) karena daruratnya (karena ia sangat membutuhkannya,-pent.). [Adapun kalau ia butuh dirham lalu membelinya (kuda tersebut, -pent.) untuk ia jual pada saat itu juga dan ia mengambil harganya maka ini adalah makruh menurut (pendapat) yang paling zhohir dari dua pendapat ulama][1]”. Dari Majmu’ Al-Fatawa 29/501.

Dan dalam jilid 29 hal. 498-500, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil bolehnya hal tersebut berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah dan Al-Ijma’.

Dan hukum bolehnya ini juga merupakan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Saudi Arabia[2], keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy no. 51 (2/6) dan no. 64 (2/7)[3], kesimpulan dalam AL-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin[4], Fatwa Syaikh Sholih Al-Fauzan[5], Fatwa Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh[6] dan kebanyakan ulama di zaman ini.

 

Adapaun dalil yang dapat dijadikan sandaran untuk melarang Tawarruq adalah hadist berikut:

 

Diriwayatkan Abu Huiroiroh ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Jika kamu melakukan jual beli secara ‘inah, mengambil ekor sapi, rela dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Alloh SWT akan melimpahkan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Daud) 

 

Pada Hadist diatas dengan jelas dikatakan bahwa Allah SWT akan melimpahkan kehinaan kepada orang –orang yang melakukan transaksi Inah sampai mereka kembali ke agama mereka.

 

Struktru Tawarruq hampir sama dengan struktru Inah. Perbedaan keduanya sangat sedikit yanitu terletak pada tempat penjualan barang kembali. Bila pada Inah, barang yang dibeli secara kredit tersebut dijual kembali ke penjual pertama (pemilik awal barang) sedangkan pada Tawrruq, barang dijual kembali kepada pihak ketiga (buka penjual pertama). Oleh karena itu, dianggap bahwa sebenarnya Tawarruq itu sama saja dengan Inah yang dilarang oleh Allah SWT.

 

Selain itu, orang-orang yang melakukan Tawarruq terkadang tidak berada pada kondisi sangat butuh dengan likuiditas dimana jika liquiditas tidak terpenuhi maka kehidupannya akan terancam.

 

 

D. Qara’in Ahwal

        Manqulah

        Kaidah Fiqih

 

Ö        ”Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” ( Ibnu Rusyd, Bidayah al Mujtahid, Juz 2, hal.61; lihat pula Al-Kasani, Bada’i as-Sana’i, juz 5 Hal.220-222)

 

Ö        Hukum asal dalam muamalah adalah pemaafan, tidak ada yang diharamkan kecuali apa yang diharamkan oleh Allah SWT. (Ibnu Taimiyah, Juz II hlm.306)

Ö        Hukum asal dalam transaksi adalah keridhaan kedua belah pihak yang berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang diakadkan. (Ahmad al-Nadwi)

Ö        Setiap pinjaman dengan menarik manfaat (oleh kredit) adalah sama dengan riba (Al Ruki)

Ö        Segala perkara tergantung pada niatnya

Ö        Seseorang tidak dapat menjual suatu barang yang bukan miliknya

 

        Ghoiru Manqulah

        Aspek  Ekonomi

Dalam kegiatan ekonomi  masyarakat, ditemukan begitu banyak transaksi ribawi dalam usaha memenuhi kebutuhan liquiditas baik untuk keperluan bisnis maupun konsumsi. Hal ini sulit untuk dihindari mengingat tersedianya likuiditas telah menjadi kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahanakn eksistensi bisnis. Adapun jalan untuk mendapatkan liquiditas dengan pinjaman Qard tidak tersedia. Oleh karena itu, masyarakat dan pengusaha menempuh jalan ribawi untuk bisa memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut.

Namun demikian, ada sebagian masyarakat yang mencoba mencari jalan alternatif untuk bisa memenuhi kebutuhan liquiditas mereka namun tetap terhindar dari transaksi ribawai. Dan salah satu jalan alternatif tersebut adalah tawarruq.

 

 

 

 

Jika tawarruq dilarang, maka mereka dapat dipastikan akan menempuh jalan ribawii mengingat kondisi terpenuhinya liquiditas dewasa ini  semakin menjadi kebutuhan tidak hanya untuk keperluaan yang bersifat mendesak namun juga untuk keperluan lainnya.

 

 

  1. E.   Penutup

Dari pembahasan diatas, maka dapat tarik kesimpulan bhawa secara dalil baik itu Al-Qur’an maupun As-Sunnah, lebih berat kepada yang membolehkan. Begitu juga, jika dilihat dari Qara’in Ahwal, baik manqulah maupun ghoiru manqulah lebih berat kepada yang membolehkan.

Namun demikian, untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan tawarruq yang pada mulanya muncul sebagai tindakan alternatif dalam memenuhi kebutuhan uang tunai tanpa menggunakan transaksi ribawi, maka perlu disyaratkan  bolehnya dengan beberapa ketentuan:

       Seseoran butuh untuk melakukan transaksi tersebut dengan kebutuhan yang jelas

       Sulit baginya mendapatkan keperluannya dengan jalan Al-Qardh (pinjaman), As-Salam maupun yang lainnya.

       Hendaknya barang yang akan ditransaksikan telah dipegang dan dikuasai oleh penjual.
Wallahu Ta’ala A’lam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

 

Al-Qur’an

Al-Hadist

Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI-Edisi Revisi Tahun 2006, DSN MUI –BI, 2006.

Abu Muawiyah, Masalah At-Tawarruq, (http://al-atsariyyah.com/?p=537 : 15 December 2008.

Mohd. Daud Bakar, Engku Rabiah Adawiah Engku Ali, Essential Readings In Islamic Finance, CERT Publications Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, 2008

Nibra Hosen, Tawarruq, http://nibrahosen.multiply.com/journal/item/21/Tawarruq:15 Februari 2008.

Zulkarnain bin Muhammad Sunusi, Jual Beli Dengan Cara Kredit, http://groups. yahoo.com/ group/nashihah/ message/41, 21 Desember 2008.

Adiwarman Karim, Bank Islam : Analisis Fiqih dan Keuangan, Karim Business Consulting, 2003.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                            

 

 

 


[1] Mohd. Daud Bakar, Engku Rabiah Adawiah Engku Ali, Essential Readings In Islamic Finance, CERT Publications Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, 2008.

[2] Ibid

[3] op.cit

Comments (1) »

Not Safe For Not Working On

Originally posted on Dan Kaminsky's Blog:

There’s an old Soviet saying:

If you think it, don’t say it.
If you say it, don’t write it.
If you write it, don’t be surprised.

It’s not a pleasant way to live.  The coiner of this quote was not celebrating his oppression.  The power of the Western brand has long been associated with its outright rejection of this sort of thought policing.

In the wake of a truly profound compromise of sensitive photographs of celebrities, those of us in Information Security find ourselves called upon to answer what this all means – to average citizens, to celebrities, to a global economy that has found itself transformed in ways not necessarily planned.  Let’s talk about some things we don’t normally discuss.

Victim Shaming Goes Exponential

Dumdum?  Really?

We shouldn’t entirely be surprised.  Victim shaming is par for the course in Infosec, and more than Infosec, for uncomfortably similar reasons. …

View original 2.324 more words

Leave a comment »

Just how easy is ‘high expectations for all’?

Originally posted on Reflecting English:

go further(1)

Image: @jasonramasami

As the new school year springs – or lumbers! – into life, I have been thinking about the beliefs I have about my students. Like all dedicated teachers, I would vehemently argue that I have the highest expectations for each and every student I teach. How dare you suggest otherwise!

But do I really? And more to the point: is it possible for any teacher to have genuinely high expectations of every student?

Psychologist Daniel Kahneman, in Thinking Fast and Slow, shares the following experiment. Participants were given this question:

An individual has been described by a neighbour as follows: “Steve is very shy and withdrawn, invariably helpful but with little interest in people or in the world of reality. A meek and tidy soul, he has a need for order and structure, and a passion for detail.” Is Steve more likely to be a librarian or a…

View original 1.135 more words

Leave a comment »

Disinformation

Originally posted on BREVITY's Nonfiction Blog:

Dancing Elephants by Heinrich Kley

Dancing Elephants by Heinrich Kley

What nobody tells you as an artist is that every project starts at the beginning. Not just the blank page, the empty stage, but that you have to re-establish your credentials and your quality every time. You can coast on reputation a little, but it doesn’t last long if you don’t deliver.

What nobody tells you is that praise—a standing ovation, a good review, your teacher’s approval—makes you feel good for a day, but one line of internet criticism from a stranger reverberates in your skull forever.

Frankly, I don’t see what all the fuss is about.

(I tried to feel bad when that critic killed himself the next year, but I didn’t.)

What nobody tells your boyfriend is that writing 3000 words in a calm, soothing, supportive environment still leaves you too tired to call home at the end of the day. So…

View original 748 more words

Comments (2) »

The Meaning of Happiness Changes Over Your Lifetime

Originally posted on Center for Advanced Hindsight:

Swinging Happiness for BlogThe following is a scientific and personal article written by CAH member Troy Campbell about happiness.

One lovely afternoon, I began chatting to my grandpa. I was completely unaware he was about to say something that would change my view of happiness forever.

In the middle of our conversation, I felt a lull so I pulled out the classic question. “If you could have dinner with one person, living or dead, who would it be?” I couldn’t wait to talk about my long list of dead presidents, dead Beatles, dead scientists, and a really cute living movie star. But I was also really eager to hear what he’d say.

Then he simply answered, “My wife.”

I immediately assured him it’s not necessary for him to answer like that. We all knew he loves his wife, whom he eats dinner with every night and was currently over in the other room…

View original 722 more words

Leave a comment »

TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM

TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM

Oleh : Duscik Ce’olah

A.     Latar Belakang

 Tawarruq merupakan salah satu skema transaksi syariah yang dapat digunakan sebagai alternatif bagi pihak-pihak yang sangat membutuhkan uang tunai tapi tidak mendapatkan pihak yang dapat memberikan talangan/pinjaman bebas riba. Dalam masyarakat tradisional, skema ini diterapkan antara individu, sedangkan pada masa sekarang skema ini mulai diterapkan di lembaga keuangan syariah di luar negeri. Salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam menerapkan skema ini adalah masih kurangnnya pemahaman masyarakat yang dikarenakan terbatasnya pembahasan/literatur tentang skema ini terutama literatur dalam bahasa indonesia. Berdasarkan kondisi diatas, penulis tertarik untuk menulis secara singkat tentang Tawarruq berdasarkan tinjauan pustaka dengan judul  “TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM”

 B.     Pembahasan

 Pengertian Tawarruq

Berdasarkan Qomuus Muhiith sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Ibrahim Fadhil Dabu dalam artikelnya yang berjudul Tawarruq, It’s Reality and Types,  kata tawarruq berasal dari kata kertas dan koin dirham yang terbuat dari perak atau uang yang terbuat dari dirham. Jamak dari tawarruq adalah awraaq yaitu kertas yang berfungsi menggantikan uang atau uang kertas.  Sementara itu, Nibrahosen (2008) menyatakan bahwa dalam Bahasa Arab, akar kata dari tawaruq adalah “wariq” yang artinya : simbol atau karakter dari  perak (silver).  Kata tawarruq ini di gunakan untuk mengartikan,  mencari perak, sama dengan kata ta allum, yang arti nya mencari ilmu, yaitu belajar atau sekolah. Kata tawarruq dapat di artikan dengan lebih luas yaitu  mencari uang tunai dengan berbagai cara yaitu bisa dengan mencari perak, emas atau koin yang lainnya.

Sedangkan secara istilah, Prof. Dr. Ibrahim Fadhil Dabu mengartikan tawarruq sebagai suatu kegiatan dimana ketika seorang membeli suatu komoditi secara kredit (angsuran) pada harga tertentu dan kemudian menjualnya untuk mendapatkan likuiditas (uang) kepada pihak lain (secara tunai) pada harga yang lebih rendah dari harga asalnya. Jika orang tersebut menjualnya ke pihak penjual pertama, maka hal tersebut menjadi tergolong transaksi terlarang yang disebut Al-Inah. Adapun Nibrah Hosen secara literatur mengartikan istilah tawarruq adalah sebagai berbagai cara yang di tempuh untuk mendapatkan uang tunai atau likuditas. Istilah tawarruq ini di perkenalkan oleh Mazhab Hambali. Mazhab Shafi’i mengenal tawarruq dengan sebutan “zarnagah”, yang artinya bertambah atau berkembang. Masih menurut Nibra Hosen, dalam Hukum Islam, tawarruq artinya adalah struktur yang dapat dilakukan oleh seorang mustawriq/mutawarriq yatiu seorang yang membutuhkan likuditas. Transaksi tawarruq adalah ketika seseorang membeli sebuah produk dengan cara kredit (pembayaran dengan cicilan) dan menjualnya kembali kepada orang ke tiga yang bukan pemilik pertama produk tersebut dengan cara tunai, dengan harga yang lebih murah.

 

Ragam Format Tawarruq

Ada 3 formasi dari  tawarruq: (Nibra Hosen 2008)

1.   Seseorang yang membutuhkan likuditas (uang tunai) membeli produk/barang/komoditi dengan cara kredit dan menjualnya kepada pihak lain dengan cara tunai, tanpa di ketahui oleh pihak pihak lain akan niatnya tersebut di atas.

2.   Seseorang (mutawarriq) yang membutuhkan uang tunai, memohon untuk diberikan pinjaman uang dari penjual yang menolak untuk meminjamkan uangnya, tapi penjual tersebut berkeinginan untuk menjual barangnya dengan cara kredit dengan harga tunai, lalu mutawarriq tersebut dapat menjual kembali barang tersebut kepada orang lain dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Kedua formasi transaksi tawarruq ini dapat di terima dan di izinkan oleh para Ulama tanpa ada nya perdebatan.

3.   Hampir sama dengan formasi no. 2, kecuali si penjual, menjual barangnya dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar kepada Mutawarriq, sebagai akibat dari pembayaran yang tertunda/dengan cicilan. Formasi ini masih diperdebatkan oleh para pakar Hukum ekonomi syariah.

Pengertian dan format tawarruq sebagaimana diuraikan diatas merupakan pengertian dan format tawarruq murni yang sering disebut sebagai tawarruq fiqih atau clasical tawarruq. Sedangkan tawarruq yang diterapkan oleh perbankan syariah disebut tawarruq munazam atau organized tawarruq.

 

Pembahasan Para Pakar Ekonomi Syariah

Berdasarkan hasil studi kepustakaan ditemukan berbagai penelitian yang membahas tentang tawarruq. Prof. Dr. Ibrhim Fadhil Dabu dalam jurnalnya yang berjudul Tawarruq, It’s Reality and Types menyimpulkan bahwa ada dua jenis tawarruq yaitu  clasic tawarruq (tawarruq klasik) dan organized tawarruq.  Selain itu juga diungkapkan bahwa sebagian besar ulama klasik dan ulama komtemporer memperbolehkan tawarruq klasik karena kenyataannya bebas dari riba dan tidak mengandung transaksi ’inah. Adapun organized tawarruq dilarang oleh sebagian besar ulama kontemporer karena terdapat riba didalamnya. Salah Al Shalhoob dalam jurnalnya yang berjudul Organized Tawarruq In Islamic Law menyimpulkan bahwa organized tawarruq yang dipraktekkan  dewasa ini tidak dapat diterima dalam hukum islam.  Namun demikian menurutnya, organized tawarruq masih lebih baik dari pada mempraktekkan riba karena setidaknya ada beberapa ulama yang tidak sependapat bahwa organized tawarruq dilarang, disisi lain terdapat konsensus bahwa riba dilarang dalam hukum islam. Dengan demikian, jika seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan dana untuk sesuatu yang penting, seperti untuk tempat tinggal, berobat dan  sebagainya, terdapat jalan yang membolehkan bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Selanjutnya, seorang pakar ekonomi syariah asal negeri jiran Malaysia, Dr.Aznan Hasan mengemukan pendapat yang agak berbeda tentang Organanized tawarruq. Dalam jurnalnya yang berjudul Why Tawarruq Needs To Stay; Strengthen the practice, rather than probihiting it, Dr.Aznan Hasan mengemukakan pandangan atas keputusan OIC’s International Fiqh Academy Council yang melarang praktek organized tawarruq dan reverse tawarruq. Menurutnya, memperbaiki praktek tawarruq lebih baik dari pada melarangnya. Ada beberapa kondisi atas praktek tawarruq yang tidak sesuai dengan hukum islam dan hal tersebut dapat diperbaiki sehingga pada akhirnya transaksi tawarruq dapat diterima dan diperbolehkan.

Sementara itu, Dr. Engku Rabiah Adawiah Engku Ali yang juga dari Malayasia, dalam tulisannya yang berjudul Bay’ Al-‘Inah and Tawarruq; Mechanisms and Solutons yang terangkum dalam buku berjudul Essential Reading in Islamic Finance (2008), menyimpulkan bahwa kontroversi seputar kontrak jual beli al-‘Inah dan tawarruq paling utama mengenai polemik klasik tentang adanya hilah. Sepanjang hilah dianggap sebagai momok bagi agama dan ajarannya, bay’ al-‘Inah dan tawarruq sebagaimana yang dipraktekkan oleh perbankan dan lembaga keuangan syariah tidak akan pernah diterima secara positif sebagai alternatif atas praktek berbasis riba pada perbankan dan lembaga keuangan konvensional. Selanjutnya, jika hilah dipandang sebagai sebuah mekanisme untuk memecahkan masalah kebutuhan yang mendesak dari masyarakat, maka ada peluang praktek tersebut dapat diterima sebagai alternatif sesuai syariah.

 

Pendapat Ulama

Sebagian ulama berketetapan bahwa hukum bay tawarruq adalah makruh. Ketetapan hukum ini adalah pendapat salah satu pendapat dari mazhab Hanbali. Pendapat ini diambil oleh Ibnu Taymiyah. Alasan mereka, bahwa jual beli ini seolah-olah seseorang menjual dirham dengan dirham yang lebih banyak atau meminjam dirham dan membayarnya dengan dirham yang lebih banyak sebagai kompensasi dari masa penantian. Jual beli ini mirip dengan riba. Meskipun bukan riba yang sesungguhnya.(Muhammad Rawwas Qal’ah Jiy, Al-Muamalah maliyah al-Mu’ashirah, Beirut, Dar al-Tanafus, 1999)

Menurut ulama jumhur, hukumnya boleh, karena telah terpenuhi syarat dan rukun jual beli. Alasan pemikiran mereka ialah bahwa  jual beli tawarruq ini tidak terdapat larangan syariah padanya. Karena itu ia termasuk al-ibahah al-ashliyah (hukum dasarnya memang boleh), sesuai dengan kaedah,”Pada dasarnya semua akad itu dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya”

Dasar pemikiran berikutnya ialah

الناس  اليوم محتاجون الى بيع التورق  للأن القرض الحسن قد قل أهله فمن احتاج الى المال لا يجد من يقرضه  وقد يضطر الى شراء سلعة بالتقسيط أو بثمن أجل ثم يبيعه -ولو يخسارة-  بثمن حال ليقضي بثمنها حاجته

Orang-orang di zaman sekarang membutuhkan bay’ tawarruq, karena qardhul hasan sangat sedikit orangnya (lembaga yang memiliki produk ini.red). Orang yang memerlukan uang tidak menemukan orang yang mau meminjamkan uang kepadanya. Maka  terpaksa-lah ia membeli barang secara cicilan atau dengan bayaran  secara kredit kemudian menjualnya kembali dengan harga cash –meskipun ia rugi karena lebih murah-.Hal ini ia lakukan  agar keperluannya terpenuhi yakni mendapatkan uang (wariq) sekarang.(Ibid..hlm.86)

Diantara ulama yang berpendapat membolehkan tersebut adalah Iyas bin Muawiyah serta salah satu riwayat Imam Ahmad. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Abdurrahman bin nashir Ass-Sa’dy dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Bas sebagaimana dalam Taudihul Ahkam (4/398), Syaikh Sholih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti (8/232).

Namun demikian, Syaikhn Utsaimin menyaratkan bolehnya dengan beberapa ketentuan yaitu;

  1. Ia butuh melakukan transaksi tersebut dengan kebutuhan yang jelas.
  2. Sulit baginya memenuhi keperluannya dengan jalan Al-Qardh (pinjaman) maupun lainnya.
  3. Hendaknya barang yang akan ditransaksikan telah dipegang dan dikuasai oleh penjual.

Memperhatikan ketentuan yang disyaratkan oleh Syaik Utsaimin tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dibolehkannya seseorang melakukan transaksi tawarruq harus untuk kebutuhan yang jelas dan memang tidak ada jalan lain untuk mendapatkan uang tunai serta terpenuhinya syarat-syarat syahnya jual beli.

Sementara itu, Ulama kontemporer Dr. Rafik Yunus Al-Misri berpendapat bahwa  hukum tawarruq bervariasi tergantung dari kondisi diantaranya;

  1. Jika ketiga pihak yang terlibat dalam tawarruq  mengetahui bahwa tujuan utama dari pembeli menggunakan transaksi tawarruq adalah untuk mendapatkan uang tunai, maka semua mereka berdosa.
  2. Jika dua pihak mengetahui bahwa penjual telah menggunakan transaksi tawarruq untung mendapatkan uang tunai maka mereka berdua berdosa. Namun jika mereka tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari penjual, maka mereka tidak berdosa.
  3. Seseorang diperbolehkan melakukan tawarruq hanya dalam keadaan sangat membutuhkan/terdesak.

Berdasarkan poin 1 dan 2 diatas, dapat dikatakan bahwa tawarruq diperbolehkan jika tidak bersifat dikondisikan oleh pihak-pihak yang terlibat. Adapun poin 3 lebih menekankan bahwa tawarruq diperboleh hanya untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan/mendesak seperti untuk membayar hutang atau untuk berobat.

Selain itu, ada juga ulama yang melarang tawarruq diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal (Ibnu Qudamah, Al-Mugni, p.195-196). Dalil yang sering digunakan oleh mereka yang melarang tawarruq adalah hadist nabi dibawah ini;

Diriwayatkan Abu Huiroiroh ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Jika kamu melakukan jual beli secara ‘inah, mengambil ekor sapi, rela dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Alloh SWT akan melimpahkan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Daud)

 Struktru Tawarruq hampir sama dengan struktru Inah. Perbedaan keduanya sangat sedikit yanitu terletak pada tempat penjualan barang kembali. Bila pada Inah, barang yang dibeli secara kredit tersebut dijual kembali ke penjual pertama (pemilik awal barang) sedangkan pada Tawrruq, barang dijual kembali kepada pihak ketiga (buka penjual pertama). Oleh karena itu, dianggap bahwa sebenarnya Tawarruq itu sama saja dengan Inah yang dilarang oleh Allah SWT.

 

C.     Kesimpulan

Ulama masih memboleh penerapan tawarruq fiqih dimasyarakat tapi masih berbeda pendapat tentang organized tawarruq  yang diterapkan diperbankan syariah.

 

D.    Daftar Pustaka

 Al-Bukhary, ‘Ala al-Din ibn ‘Abd al-‘Aziz Ibn Ahmad, Kasyf al-Asrar ‘an Ushul al-Bazdawy, Dar al-Kitab al-‘Araby, Beirut, 1394 H

Al-Kasany, Abu Bakr ibn Mas’ud. Tahqiq: ‘Ali Muhammad Mu’awwadh dan ‘Adil ‘Abd al-Maujud Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Beirut. Cetakan pertama, 1418 H

Al-Maqdisy, Abu Muhammad Abdullah ibn Ahmad Ibn Qudamah, Raudhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhi, Maktabah al-Rusyd. Riyadh. Cetakan pertama:1416 H

Bakar, Mohd Daud, Dr dan Ali, Engku Rabiah Adawiah Engku, Dr, Essential Reading in Islamic Financing,  CERT, Kuala Lumpur, 2008

Karim, Adiwarman Karim Ir, SE, MBA, MAEP, Bank Islam; Analisis Fiqih dan Keuangan,(Edisi Kedua), RajaGrafindo, Jakarta, 2004

Djazuli, Prof. H. A, Kaidah-Kaidah Fiqih, Prenada Media Group, Jakarta, 2007

Ibn Manzhur , Abu al-Fadhl Muhammad Ibn Mukrim, Lisan al-‘Arab, Dar Shadir, Beirut, Cetakan pertama, 1410 H

Ismail, Sya’ban Muhammad.Dr, Ushul Fiqh al-Muyassar. Dar al-Kitab al-Jami’iy. Kairo, Cetakan pertama, 1415 H

Dabu,  Ibrhim Fadhil, Prof. Dr,  Tawarruq, It’s Reality and Types, tanpa tahun.

Hasan, Aznan, Dr, Why tawarruq needs to stay; Strengthen the practise, rather than prohibiting that, www.Islamicfinancenews.com, 2009

Hosen, Nibra, Tawarruq, www.nibrahosen.blogspot.com , 2008

 Al-Shalhoob, Salah, Organised Tawarruq in Islamic Law  A Study of Organised Tawarruq as Practised  in the Financial Institutions in Saudi Arabia, Edinburgh, UK, tanpa tahun. 

Penelitian Kodifikasi Produk Perbankan Syariah Internasional, Bank Indonesia, 2008

Leave a comment »

Kisah Lauda Egregia Goestiano

Kisah Lauda Egregia Goestiano

March 23, 2012 at 4:16 PM

(dikutip dari http://potads.or.id/news/kisah-lauda-egregia-goestiano/)

Saya seorang ibu dengan 2 anak, yang pertama berusia 18thn perempuan, yang kedua 6,5thn laki laki. Kehadiran anak anak saya merupakan kebahagian yang tak terhingga yang saya rasakan dalam hidup saya. Ingin rasanya saya selalu melihat kecerian dan kebahagian dari mereka sepanjang masa.untuk anak saya yang pertama saya tidak mengalami sesuatu yang “istimewa” sampai saat ini, semuanya berjalan seperti apa adanya. Waktu saya baru mempunyai 1 anak saya selalu berharap semoga saya di anugrahi seorang anak lagi entah perempuan atau laki laki buat saya tidak masalah, saya selalu bilang ke semua orang di lingkungan tempat tinggal saya andai saya punya anak lagi saya akan memberikan uang sebesar Rp.50.000,- per anak yang usia SD, dan saya selalu konsultasi ke dokter agar saya bisa mempnyai anak lagi. Selama 1 tahun saya mengikuti saran dokter dan mengikuti beberapa sarannya. Dan pada tahun 1995 pada bulan novenber saya positif hamil, saya berteriak senang dan saya bersyukur kepada NYA. Sebagai orang yang sangat mendambakan kehadiran si kecil saya berusaha merawat kandungan saya seperti layak nya orang lain.

Pendek kata saya melahir kan pas bulan tetapi saya melahirkan dengan di vacuum karena bayi saya termasuk besar. Anak saya lahir dengan berat 3.850 kg, panjang 51 cm.pada waktu melahirkan saya melihat anak saya biasa2 saja tidak ada hal hal yang mencurigakan hanya dia ada masalah saat saya mencoba untuk menyusui, setiap akan minum selalu langsung mencret begitu selalu setiap kali saya menyusui nya, sampai akhirnya saya bawa ke dokter anak langganan kami dan anak saya di diagnosa dehidrasi, tetapi dengan memberikan susu formula semuanya bisa di atasi. Bulan pertama sampai bulan ke 6 semua nya berjalan biasa biasa saja,ada hal yang kami sekeluarga sedikit bertanya Tanya kenapa anak saya kok belum bias bicara, jalan, belum numbuh gigi pada hal usianya sudah 14 bln. Saudara dan tetangga selalu bilang gak apa apa karena anak mereka ada juga yang belum bias apa apa dalam usia segitu, dalam hal ini saya terlena saja dan tidak punya rasa apa apa , apalagi menduga anak saya ada sesuatu kekurangan. Oh ya anak saya ini kami beri nama LAUDA EGREGIA GOESTIANO, biasa di sapa LAUDA.

Suatu hari saya sedang menghadiri suatu pesta di salah satu hotel dan saya memang selalu membawa lauda kemana pun saya pergi, dan waktu itu ada teman saya yang bilang “bu… anaknya idiot ya?”… bagaikan di sambar petir hati saya mendengar pertanyaan rekan saya itu, saya Cuma bilang dari mana dia tau? Dan dia jawab iya.. saya tahu anak ibu cacat.tanpa buang waktu saya pergi ke dokter anak langganan kami dan saya dengan becucuran air mata bertanya apa benar apa yang di katakan teman saya tersebut. Dan jawaban dari dokter adalah bahwa dia tidak melihat ada kelaianan pada lauda akan tetapi dia menyaran kan agar saya pergi test ke RSCM. Dengan bertanya dan mencari cari informasi dari mana pun akhirnya saya pergi ke RSAB Harapan Kita dan lauda menjalani berbgai tes, tes pertama adalah tes kromosom. Waktu membaca hasil tes akhirnya tiba… saya inget betul saya sangat penasaran dan di dalam lift saya buka dan ALLAHU AKBAR saya membaca kata POSITIVE….

Tidak ada kata yang keluar saat itu, air mata pun seperti nya tidak bisa di tahan. Seribu perasaan berkecamuk dalam hati saya waktu itu rasa MARAH, BENCI, SEDIH, TIDAK BISA MENERIMA,TAKUT, MALU, dan sejuta perasaan lainya tak bisa saya ungkapkan dengan kata kata. Dengan perasaan terpukul saya menemui dokter anak di RSAB Harapan Kita dan mereka memberikan penjelasan tentang apa dan bagaimana DOWN SYNDROME kepada saya. Dan lauda juga di saran kan untuk menjalani tes jantung, mata. Dan hasil tes jantung lauda ternyata ada kelainan juga yaitu PDA, dan mata juga ada yaitu minus 2,5, dan silinder 2,5.

Untuk kedua kalinya saya merasa disambar petir di siang bolong. Rasa tidak terima, sedih dan berbagai rasa terus didada ini, dan yang lebih parah lagi saya merasa TUHAN TIDAK ADIL , kenapa harus saya, kenapa harus lauda yang menghadapi kenyataan ini, salah saya apa?. Satu hal yang ada dlam hati dan pikiran saya waktu itu adalah MATI….. mungkin KEMATIAN adalah solusi yang terbaik. Saya bertekad saya harus mati bersama dengan ke 2 anak saya. Pikiran itu yang selalu ada dalam pikiran saya. Karena saya tidak mau kelak anak saya LAUDA menjadi bahan olok olok orang , menjadi bahan ejekan, di kucil kan, dan di hina.saya harus menjauhkan lauda dari kenyataan ini.

Sekembali dari rumah sakit saya antar lauda ke rumah, setelah itu saya ambil mobil saya bawa kendaraan masuk jalan tol cikampek terus ke Tj Priok dan balik lagi ke cikampek dan saya menangis, marah., semua perasaan saya tumpahkan saya berteriak sampai saya merasa lelah dan saya ingin bunuh diri bersama anak anak saya. Tapi entah dari mana saya seperti nya merasakan lelah sekali dan saya menepikan kendaraan dan saya beristirahat sejenak dan tanpa saya sadari ada suatu bisikan MENGAPA SAYA PUTUS ASA?…….. KENAPA SAYA TIDAK MENDEKAT KAN DIRI DAN BERSERAH KEPADA NYA?……sungguh saya kaget, saya terbangun dan saya coba untuk mengingat ngingat apa saja yang telah saya lakukan Selama 2 jam tadi.

Sejak saat itu saya lebih sadar dan coba untuk menerima kenyataan ini dan saya bertekad saya akan buktikan bahwa mempunyai anak DS bukan suatu AIB, tetapi ANUGRAH. Doa yang tidak ada putus putus nya kepada SANG PENCIPTA buat anak ku lauda selalu saya panjat kan. Dan mulai saat itu lauda saya bawa ke tempat terapi dan saya berikan dia apa yang di butuh kan . tanpa raa lelah saya berjuang dan saya kejar ketinggalan lauda agar lauda bisa menjadi anak yang pintar minimum untuk diri nya sendiri, agar kelak dia tidak bergantung ke pada orang lain.

Saya ingat kakak saya berpesan “ KITA ORANG TUA HANYA LAH IBARAT TEMPAT PENITIPAN BARANG, ORANG BOLEH MENITIPI BARANG APA SAJA, ENTAH BARANG YANG MAHAL, MURAH, BAGUS , JELEK, APAPUN….. TOH NANTI TITIPAN INI AKAN DI AMBIL OLEH YANG PUNYA”… ini yang ,membuat saya sadar saya harus menjaga titipan NYA. Kepada kakak nya pun saya coba untuk menjelaskan keadaan adik nya dan saya bersyukur kakanya pun bisa mengerti. Beruntung saya adalah orang yang tidak terlalu lama larut dalam situasi yang sangat sangat menyiksa ini, saya hanya larut selama 2 minggu dimulai dari tes kromosom, dan sejak itu saya sudah bisa terima kenyataan dan saya sampai sekarang merasa sangat bahagia dengan kehadiran lauda.

Sekarang lauda sudah berumur 6.5 thn sekolah di SD normal, terapi di YAMET 2 kali seminggu dan lauda juga sudah bisa bicara, layaknya anak lain nya. Terima kasih TUHAN……. Saya menganggap ini merupakan suatu mukjizat.

Ellya Goestianie

Leave a comment »

Kisah Zeina Nabila

Kisah Zeina Nabila

March 23, 2012 at 4:18 PM

(dikutip dari  http://potads.or.id/news/kisah-zeina-nabila/)

Noni Fadhilah (40), Kisah Orang Tua Anak dengan Down Syndrome Kisah Zeina Nabila Sejak awal melahirkan Zeina Nabila, anak saya yang mengalami down syndrome, saya didukung penuh oleh keluarga. Tapi saya kecewa dengan dokternya. Karena dokter mengatakan, “Sudahlah Bu, sudah tahu kan anaknya seperti ini, jadi ya sudah, bikin lagi saja.” Sementara saya dalam keadaan terpukul, dan baru mengetahui anak pertama saya down syndrome setelah melahirkan itu.

“Anak kita Down Syndrome!”, suamiku berkata dengan wajah tertunduk takut.Cukup satu kata, namun kata itu yang membuat dunia ini menjadi sepi…sepi sekali. Lubang telingaku bagai ada yang mendesak, hingga membuat aku menjerit, meronta, menangis yang masih kuingat, semua orang menyabarkan aku bahkan tak hentinya mamaku memelukku sambil mengucapkan “ Alhamdulillah, Allahu Akbar!”. Namun aku hanya merasakan sepi.

Sesaat terlintas dalam benakku tindakan-tindakanku di masa lalu . “Apakah ini karma?,. Apakah ini kutukan?, Apakah ini karena kebandelanku?. Semua jadi satu. Amat sangat berat di kepalaku. Tidak…tidak…tidak. Tuhan yang jahat padaku.Kenapa harus aku? Kanapa bukan pelacur-pelacur itu yang mendapatkannya? Kenapa bukan penjahat atau pecandu narkoba yang masih berkeliaran itu yang mendapatkannya? Kenapa harus aku yang telah merencanakan hidup yang begitu matangnya. Aku menikah sambil kuliah dan kutunjukkan pada keluargaku sesuai janjiku bahwa aku tetap akan selesaikan kuliah walaupun menikah lebih dulu. Dimana keluarga tidak menyetujui tindakan. .

Pada tahun 1990 ketika melahirkan itu, saya sedang menyusun skripsi teknik elektro di Universitas Trisakti. Saya ingin berpacu, bahwa saya harus dan mampu mendapatkan semua. Saya mendapatkan suami, anak, titel, pekerjaan dalam waktu bersamaan dalam satu tahun. Boleh dikatakan, saat itu saya sombong.

Ketika lahir, Zeina tidak menangis sama sekali, bahkan sewaktu dipukul sekali pun. Ia hanya mengeluarkan suara seperti ekh, ekh, ekh saja. Zeina tidak bisa menangis selain tenggorokannya sempit, lidahnya lebar dan panjang, lubang air matanya pun tersumbat.

Awal melahirkan dan diberitahu anak saya down syndrome, saya amat terpukul. Saya menolak. Kenapa saya mengalami ini. Saya sudah sholat, saya merasa apa yang Allah perintah sudah saya laksanakan. Kok justru mendapatkan ini. Saya ingin anak yang normal. Ada apa? Apa saya pernah berbuat salah. Apa saya pernah berbuat sesuatu yang tidak disukai atau di luar jalur agama. Semua terus berkecamuk di kepala. Apa kata orang nanti. Apa yang harus saya perbuat nanti. Saya hanya bisa menangis sendirian. Suami berusaha membantu. Tapi saya tetap tidak tahu harus berbuat apa dengan kebingungan itu. Hati saya hampa, yang ada penolakan saja. Dalam situasi tidak menentu, saya sempat terpikir, mungkin faktor keturunan dari neneknya ayah Zeina, yang keturunan Inggris. Setelah itu saya ngotot sekali ingin diperiksa gennya Zeina, ternyata tidak. Anak saya down syndrome murni.

Tiga bulan setelah melahirkan, saya tanya diri saya, harus berkarir atau mengurus anak terbelakang mental. Saya putuskan memilih terus berkarir. Saya tetapkan say goodbye pada anak down syndrome, dia punya nenek dan tante yang mau mengasuh dia. Karena saya sedang labil, tidak ada yang men-support dalam arti betul-betul memberikan “terapi”, saya jalan terus dengan pilihan saya. Ibu menasehati, tapi saya tetap tidak bisa menerima. >br>
Saya bersitegang dengan keluarga, karena mereka tidak setuju saya bekerja. Mereka bilang, “Kamu seharusnya di rumah saja. Tinggalkan karir. Nanti suatu hari kamu akan tahu, apa hikmahnya ini.” Saya bilang, “Nggak bisa. Saya dikasih akal, saya harus memilih. Dan saya memilih karir. Saya akan tinggalkan dia. Kalau pun tidak ada yang bisa mengasuh, saya akan cari uang, dan saya akan kirim dia ke Yogya di asrama.” Sampai Ibu menampar saya, karena kecewa sekali pada tingkah laku saya. Saya marah kepada Allah. Saya belum merasa itu ujian.

Zeina kemudian diasuh Ibu dan adik serta ayah saya. Ibu saya background-nya psikologi Islam. Ibu yang membawa Zeina terapi dan sebagainya. Sedang saya sibuk bekerja dan sering keluar kota. Saya tidak banyak merawat Zeina.

Pada umur 3 bulan itu , Zeina sakit. Ibu membawanya ke dokter anak terkenal, seorang profesor. Ia mengatakan, “Anak seperti ini memang begini, mau diapakan. Jadi terima saja, kita lihat saja sampai satu tahun.” Terjadi lagi kekecewaan pada dokter. Kok demikian tanggapannya. Seharusnya kan ada tindakan. Sejak itu Ibu tidak pernah mau ke dokter dan lebih banyak membawa Zeina ke seorang sinshe. Demam atau apa pun, semua pakai jamu.

Sewaktu berumur 1 tahun 7 bulan, Zeina sakit parah. Ia muntaber sampai 21 kali sehari. Karena Ibu sudah anti pada dokter, Zeina tidak dimasukkan ke rumah sakit. Zeina digendong bergantian sama nenek dan kakeknya. Diberi obat-obat sinshe. Dalam hati saya tidak sreg dengan pengobatan itu. Tapi saya mau pegang Zeina tidak kuasa. Ibu bilang, “Kenapa kamu harus pegang Zeina. Dia kami yang pegang selama ini. Kamu memang mamanya, tapi yang mengasuh kami. Jadi kamu tidak usah ikut-ikutan. Tinggalkan saja.”

Saya hanya terdiam. Tapi saya cemas. Zeina kelihatan sakit sekali. Saat itu rasa keibuan saya muncul. Kok nggak dibawa saja ke rumah sakit? Saya sangat khawatir. Ya Allah, apa yang harus saya lakukan. Saat itulah saya kembali pada Allah (terdiam, menangis). Dan saya bilang, “Ma, sudah, saya akan kembali pada dia, saya akan mengurus dia.” (menangis)

Ibu saya akhirnya menerima. Dan beliau mengatakan, kalau memang kamu betul-betul seperti itu, setelah Zeina membaik, kita akan berangkat umroh, kita berdo’a di sana. Tiga hari kemudian, Zeina membaik. Lantas, kami pun mengurus keberangkatan. Waktu itu kami diminta biro perjalanan membuat perjanjian, tidak pernah membawa bayi dalam keadaan baru sembuh. Dan bila di perjalanan terjadi apa-apa, bukan tanggung jawab pelaksana.

Jam 12 malam kami sampai di Jeddah, lantas kami ke Madinah. Malam itu juga, dalam cuaca dingin, Ibu pergi ke Masjid Nabawi membawa Zeina. Tapi Zeina justru sehat-sehat saja. Dan nafsu makannya tinggi. Setelah dua hari, kami ke Mekkah. Di sana, kulit Zeina pecah-pecah. Dia kesakitan. Kami pun mencari dokter. Setiba di sana, mantrinya kebetulan orang Sukabumi. Mantri itu bilang, “Bu, antrinya lama, kalau Ibu percaya, Ibu bawa saja dulu ke air zam-zam, Ibu doakan anak Ibu, lantas usap saja dengan air zam-zam, insya Allah sembuh.”

Jam satu malam kami bawa Zeina ke tempat air zam-zam. Kami usapkan air itu, Ibu saya betul-betul berdo’a, kami pun berdo’a, demi keselamatan Zeina, demi kemajuan Zeina. Masya Allah, jam lima pagi, pipinya sembuh, bahkan segar kemerahan. Orang-orang pun bertanya, Zeina kok pipinya bagus banget, bukannya tadi malam pecah-pecah. Kami ceritakan. Setelah itu, ibu-ibu, yang tua, yang muda, berlarian ke sana, mau cuci muka (tertawa).

Saat pulang, di pesawat, Zeina berteriak dengan artikulasi yang jelas, Mama…mama…mama!” Kemudian ia menoleh ke arah neneknya dan dia ucapkan, “Andung…Andung,” dengan jelas. Subhanallah. Itu kemajuan sangat besar buat anak down syndrome. Usia 1 tahun 7 bulan, bisa jelas berkata. Saat mengucapkan itu, Zeina pun gembira. Seolah-olah dia mengatakan, “Aku bisa!” Saat itu saya pun memujinya, “Zeina cantik…Zeina pinter…Zeina sayang…Zeina bisa!” Dia mengangguk-angguk dan bertepuk tangan (terdiam).

Sejak itu, Zeina jarang sekali sakit. Adapun saya, saya mengalami perubahan besar. Saya benar-benar terlibat dalam perawatan Zeina, dan saya sadari sebenarnya saya sungguh sayang padanya. Pada umur 2,5 tahun, Zeina sudah bisa bicara satu kalimat lengkap, “Mama…dhena …mau…shushu!” Saya sangat terharu. Saat itu terapi Zeina dibantu speech therapy di Rumah Sakit Harapan Kita. Saya ikut berlatih, supaya bisa menerapkan di rumah. Untuk berbicara pada Zeina, saya usahakan eye to eye contact, selalu menatapnya dan mengusahakan agar dia pun menatap saya.

Sejak Zeina bayi, meski kurang terlibat dalam pengasuhannya, tapi saya ikuti juga anjuran dokter, untuk melilitkan kain kasa di telunjuk, dimasukkan ke langit-langit mulut Zeina, lantas tekan perlahan seperti sedang memijat. Lalu putar-putarkan hingga lidahnya mengikuti jari saya. Sulit memulainya, tapi saya lakukan terus. Ternyata membawa hasil, lidah Zeina tidak terjulur dan dia dapat mengatupkan mulut saat umur 1 tahun. Di rumah, saya pasang cermin di dinding agar dia dapat melihat dirinya dan melihat saya berkata dengan mulut yang jelas sesuai huruf yang saya keluarkan.

Sewaktu Zeina berumur 5 tahun saya mencari playgroup. Saya datangi playgroup-playgroup terkenal. Mereka mengatakan, “Di sini tempat anak normal. Kalau anak Ibu nanti lemah, jatuh, dan Ibu complain, kami tidak bisa menerima. Ibu harus siap.” Saya bilang bahwa saya siap. Tapi orang tua murid ternyata complain, kok kita dimasuki anak seperti itu. Kita sekolah normal. Nanti akan terkesan jelek.

Setelah berkeliling, baru saya mendapat satu playgroup, yang POMG-nya bisa saya mintai tolong untuk mengumpulkan orang tua murid. Saya bicara pada ibu-ibu itu, bahwa saya mempunyai anak terbelakang mental. Saya ingin menitipkan anak saya untuk bersosialisasi. Tolong biarkan anak saya sekolah selama 6 bulan, kalau nantinya mengganggu anak ibu-ibu, anak saya akan keluar. Tapi kalau tidak mengganggu, saya mohon untuk diteruskan. Dan alhamdulillah, Zeina tidak menganggu dan ada peningkatan. Justru akhirnya saya terlibat dalam kegiatan di sana. Dan Zeina diterima dengan amat baik. (Kini Zeina sudah di SLBC kelas 1SMP)

Saya bersyukur, tidak terlambat untuk dekat dengan Zeina. Sejak ia berumur 5 tahun, saya sudah tidak lagi ke luar kota. Saya sudah full sama dia. Ke kantor pun sering saya bawa.

Saat itu Ibu saya mulai sakit-sakitan, karena beliau mengalami gagal ginjal. Di sini saya melihat, Allah begitu indahnya memberikan perjalanan hidup. Allah memberikan saya Zeina, kemudian Ibu yang mengurusnya. Setelah saya mulai perhatian pada Zeina, Ibu saya sakit, gagal ginjal, kemudian meninggal (terdiam, menangis).

Sebelum Ibu meninggal, saya juga dekat dengan seorang pria, Bapak Kadar Wiryanto (setelah dua tahun berpisah dari suami yang pertama). Ia amat sangat menerima Zeina seperti anaknya. Malah setelah kami menikah, kalau sakit, Zeina akan memanggil dia. Kalau demam panas, ada ayahnya, akan turun panasnya. Saat ijab kabul pun, Zeina sangat bisa menerima dan duduk di antara kami. Kalau sebelumnya dia panggil nama kecil calon ayahnya, selesai ijab kabul, dia langsung memanggil ‘ayah’, sambil memegang tangannya. Sampai kami terharu melihatnya.

Kalau bepergian, saya biasanya membawa Zeina. Saya biasakan ia bersosialisasi dengan banyak orang. Bagi saya, yang utama membangun kepercayaan dirinya. Memang masyarakat sering melihat kami seperti menyelidik. Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka sangat tidak mengerti tentang keterbelakangan mental. Misalnya kami sedang mandi bola, mereka bilang, jangan dekat-dekat, anak itu gila. Atau, jangan main di sana, ada anak terbelakang mental.

Ada juga warga keturunan yang sengaja datang ke rumah, karena ingin membeli Zeina. Di kalangan mereka, anak down syndrome dianggap membawa hoki. Saat itu saya tanya, “Mau membeli berapa, mau beli seharga negara?” (tertawa)

Kalau kami ke tempat permainan atau bioskop, banyak anak yang memperhatikan. Zeina pun bertanya pada saya, kok mereka memperhatikan dia terus. Saya katakan itu karena Zeina cantik, karena Zeina down syndrome. Ia tanya kembali, down syndrome itu apa. Saya katakan down syndrome itu tidak sama dengan anak biasa. Saya jelaskan secara mudah dan tidak menjatuhkan mentalnya. Setelah itu, kalau ada anak bertanya, “Kamu kenapa?” Zeina akan jawab dengan santai, bahwa dia down syndrome.

Kalau kami berbelanja di supermarket, banyak yang jelas-jelas menatap Zeina, ada juga yang diam-diam, hanya dengan sudut matanya saja. Tapi ada yang mengikuti ke mana pun kami pergi di areal supermarket itu. Mereka heran karena Zeina bisa mengobrol dengan saya secara baik. Bisa memilih apa yang dia mau seperti anak lainnya. Bahkan memilih sendiri pembalut merk apa yang ingin dia pakai.

Karena seringnya perlakuan itu, kami sampai terbiasa. Malah saya selalu mendatangi mereka, dan saya tanyakan, apakah ada di antara keluarganya yang mengalami down syndrome. Karena kalau ada, saya ingin membantu mereka. Umumnya mereka ternyata memang memiliki kerabat dekat yang down syndrome. Dan mereka heran, karena kerabatnya tidak bisa berdialog seperti Zeina. Kemudian, saya memberikan telpon saya, supaya kami bisa berhubungan terus.

Tapi pernah juga seorang ibu memperhatikan kami terus. Sewaktu saya tanya apa ada saudaranya yang down syndrome, ia marah besar. “Enak saja, nggak ada keluarga saya yang seperti itu!” Saya jawab baik-baik, “Maaf, saya cuma heran, kok ibu memperhatikan kami terus.” Ia lantas pergi sambil cemberut (tertawa).

Kalau tidak mendapatkan Zeina, saya mungkin tidak pernah mengkampanyekan down syndrome. Ini salah satu hikmah terbesar yang saya rasakan. Bersama beberapa ibu yang juga mempunyai anak down syndrome, kami mendirikan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (Potads). Kami sudah mengadakan tiga kali pertemuan besar-besaran se-Jabotabek. Sewaktu pertemuan di Monas dan TIM, tumpah ruah orang tua dan anak-anak dengan down syndrome. Dan diliput media massa. Kami ingin mengatakan, ini lho, down syndrome. Mereka jangan disembunyikan. Mereka bisa belajar sampai tingkatan yang baik, tentunya dalam ukuran anak dengan down syndrome. Saat ini bahkan sudah ada anak down syndrome yang ikut Olimpiade atletik cacat. Sudah ada yang jadi juara dunia. Mereka berangkat dengan biaya sendiri, dan di sana mereka membawa nama Indonesia.

Selain belajar di sekolah, Zeina juga belajar banyak hal di rumah. Ia juga sholat dan berdo’a. Sewaktu neneknya sakit, ia langsung berdo’a dengan sendirinya. Zeina juga ikut les musik, di sekolah musik khusus anak down syndrome, yang dibuat sahabat saya, artis Dian H.P. Awalnya Zeina ditawari main gitar, tapi tidak mau, lantas ditawari alat musik lain, dia juga menolak. Lantas Zeina bilang, “Aku ingin main drum.” Ternyata, memang ia suka sekali main drum. Di rumah pun ia latihan.

 

Sejak 6 tahun lalu, saya memilih menjadi ibu rumah tangga ketimbang berkarir. Dulu saya berpikir, sudah sekolah tinggi masak “cuma” jadi ibu rumah tangga. Setelah saya jalani, ternyata bukan “cuma”. Ternyata pendidikan saya sangat membantu untuk berdiskusi dengan anak-anak, dalam berbagai hal, termasuk saat mereka menyusun skripsi (tertawa). Sangat membantu juga untuk membesarkan mereka supaya mandiri (Setelah menikah kembali, ia dikarunia seorang putri yang kini berusia 3 tahun, Anissa Azka Thauhyda. Dari suami yang kedua, ia juga menjadi ibu dari Diastika R. Rahwidiati dan Ramaditya Adinugraha)

Zeina kritis pada saya (tertawa). Pernah sewaktu saya berkata tegas pada adiknya, dia cerita ke tantenya, “Mama begitu tuh, marah, terus adik disuruh masuk kamar, disuruh tidur.” Dia pun menirukan kata-kata saya dan ucapannya persis sama. (tertawa). Sering juga dia ”memperbaiki” ucapan saya pada adiknya, kalau saya bicara tegas. Zeina merangkul adiknya, lantas ia bicara dengan maksud sama, tapi kata-katanya lembut.

Sekarang, kalau saya pergi dan adiknya saya tinggal di rumah, saya tenang kalau ada Zeina. Karena dia tahu apa saja yang berbahaya buat adiknya. Dia akan menjaga supaya adiknya tidak mendekati stop kontak dan lainnya. Kadang kalau bermain bersama, adiknya tanya, “Kakak kok nggak bisa permainan itu, aku saja bisa.” Zeina bilang, “Kakak down syndrome, jadi belum bisa.” Sekarang Zeina sudah bisa membaca. Tapi sebelum itu, sepupu yang seusia dengannya pernah kesal saat mengajak membaca, dan Zeina belum bisa. Zeina lantas bilang, “Kamunya yang sabar dong, aku emang belum bisa baca kayak kamu.” (tertawa).
Bersama teman-teman di Potads, Ibu Ati dan Ibu Titi, saya berusaha memberi support pada orang tua yang anaknya down syndrome, yang biasanya sangat down di masa awal setelah melahirkan. Tiap hari mereka menelpon, menangis, seperti yang dulu saya rasakan. Mereka bingung, kenapa Allah memberikan yang seperti ini. Dari rumah sakit hampir tiap hari ada petugas menelpon, “Ada ibu yang baru melahirkan anak down syndrome. Tolong dibantu.” Kami membantu menyemangati mereka. Karena saya juga merasakan, kalau tidak ibunya dulu yang ditolong, bagaimana anaknya mau maju

Ada yang tiap pagi menelepon, selama satu bulan penuh, dan selalu menangis. Ada juga yang menelpon tengah malam, bahkan jam satu malam. Saya harus terima. Karena mereka butuh dukungan. Syukurlah, suami amat mendukung sejak awal.

Saya men-support bahwa kita ini orang-orang terpilih. Karena belum tentu semua orang dipercaya dan dititipkan anak down syndrome. Kalau Allah tidak percaya, tidak akan diberikan anak seperti itu. Kita harus sabar dan berusaha melakukan yang terbaik. Insya Allah, jalan keluar akan diberikan Allah. Saya percaya itu. Saya sudah mengalami, ketika dalam kesulitan, semuanya saya pulangkan pada Allah, saya menemukan jalan keluar. Yang penting kita kembali pada Allah.

Yang penting kita upayakan terus pendidikan anak itu. Karena makin rendah pendidikan di rumahnya, makin rendah pula kemampuannya. Tapi kalau dengan penuh kasih sayang kita mendidik mereka, akan ada kemajuan, dengan tingkat masing-masing. Treatment-nya seperti anak biasa, tetapi berulang-ulang, 10 kali lebih dari anak normal.

Pernah saya terpikir dan khawatir, bagaimana Zeina kalau saya dan suami wafat. Tapi saya pulangkan pada Allah, karena pasti Allah memberikan jalan. Tidak mungkin Allah menelantarkan Zeina. Kami pun berusaha, supaya Zeina siap dan bisa mandiri. Kami berencana membuat kos-kosan untuk usaha Zeina. Kos-kosan itu akan menjadi milik Zeina dan dia yang kelola. Kini Zeina sudah berumur 14 tahun, dan alhamdulillah, saya sangat bersyukur dikaruniai Zeina, dan mengambil banyak hikmah dari pemberian Allah ini.

Seperti dituturkan Noni Fadhilah pada Tarbawi di rumahnya di Villa Cinere, Jakarta (th 2006)

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.