SARANA BERPIKIR ILMIAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dari waktu ke waktu, jumlah manusia diatas muka bumi senantiasa bertambah. Bertambahnya jumlah manusia tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah barang dan jasa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjaga kelangsungan hidup. Dilain pihak, barang dan jasa yang dibutuhkan tersebut terbatas jumlahnya. Terbatasnya barang yang tersedia, sebagai konsekuensi dari terbatasnya bahan mentah yang disediakan oleh alam. Adapun terbatasnya jasa, sebagai konsekuensi dari semakin banyaknya masalah-masalah baru yang lebih rumit yang memerlukan keahlian khusus untuk dapat menyelesaikannya.
Terbatasnya bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang jadi serta semakin meningkatnya kebutuhan akan keahlian-keahlian khusus tersebut menuntut manusia untuk menciptakan ilmu-ilmu baru dalam rangka menginkatkan kemampuan penyediaan barang dan jasa yang dibutuhkan tersebut. Dengan ilmu-ilmu tersebut, diharapkan maanusia dapat memanipulasi alam sehingga dapat dihasilkan barang dalam jumlah besar serta dapat ditemukan keahlian-keahlian baru yang dapat memenuhi kebutuhan akan jasa yang semakin meningkat dan beragam.
Salah satu contoh penerapan ilmu dalam memanipulasi alam dalam rangka meningkatkan produksi barang untuk memenuhi kebutuhan manusia dalah proses produksi ayam potong. Dahulu untuk menghasilkan ayam yang siap potong harus dimulai dari proses bertelur dan pengeraman hingga menetas menjadi anak ayam. Anak ayam tersebut diasuh oleh induknya dan diberi makan hingga tumbuh besar sampai pada tahap siap potong. Proses alami ini tentu saja memakan waktu yang relatif lama dan jumlah yang dihasilkan terbatas. Seiring dengan peningkatan kebutuhan akan ayam sebagai akibat semakin meningkatnya jumlah manusia, maka proses alami tersebut tidak dapat digunakan lagi. Manusia harus berpikir keras bagaimana menciptakan suatu proses produksi ayam potong yang dapat menghasilkan dalam jumlah besar dalam kurun waktu yang relatif singkat. Dari sinilah akhirnya ditemukan ilmu baru dimana penetasan telur ayam dilakukan dengan menggunakan panas listrik dan pembesaran dilakukan dengan pemberian pakan dan obat-obatan yang padat gizi dan tanpa pengasuhaln oleh induk. Dengan cara ini, dimungkinkan proses produksi secara masal dan dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Ilmu-ilmu baru tersebut tidak serta merta muncul melainkan lahir dari proses kegiatan ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir yang ilmiah juga. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan. Singkat kata, mempelajari sarana ilmiah sangat penting bagi semua orang yang melakukan kegiatan ilmiah.
Oleh karena itu, kami tertarik untuk membahas hal tersebut dalam makalah ini dengan judul “ Sarana Berpikir Ilmiah”

1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa saja sarana berpikir ilmiah?
2. Apa saja peranan sarana berpikir ilmiah tersebut ?

BAB II
PEMBAHASAN

Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :
a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.

Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo menyatakan ada empat sarana yang diperlukan untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik yaitu bahasa, logika, matematika, dan statistika. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Jujun yang juga menyatakan sarana berpikir ilmiah adalah di ada empat yakni bahasa, logika, matematika dan statistika. Namun demikian Jujun hanya menekankan pada tiga sarana berpikir ilmiah saja yaitu bahasa, matematika dan statistika. Adapun Tim Dosen Filasafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM membagi membagi sarana berpikir ilmiah menjadi tiga yaitu Bahasa Ilmiah, Logika dan metematika, Logika dan Statistika.

Menurut Jujun, bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir induktif dan berpikir deduktif. Untuk itu, maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam bepikir deduktif ini, sedangkan statistika mrmpunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
Dalam kesempatan kali ini penulis hanya akan membahas tiga sarana berpikir ilmiah saja yakni bahasa, matematika dan statistika.
• Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang yang berlandaskan logika induktif maupun induktif. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar.
Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada komunikasi. Tanpa komunikasi maka manusia tidak dapat bersosialisasi dan dengan tidak bersosialisasi maka manusiapun tidak layak untuk disebutkan sebagai makhluk social. Dengan kemampuan bahasa akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas baginya, sesuai dengan pernyataan Wittgenstein “Batas duniaku adalah batas bahasaku”
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini maka Ernest Cassirer menyebut manusia sebagai manusia Animal symbolic, makhluk yang menggunakan symbol, yang secara generic mempunyai cakupan yang lebih luas dari Homo Sapiens yakni makhluk yang berpikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia menggunakan symbol.
Batasan-batasan tentang symbol ini perlu diteliti setiap unsurnya, antara lain :
1. Symbol-simbol : sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain
2. Symbol-simbol vocal : bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerjasama berbagai organ atau alat tubuh dengan system pernapasan
3. Symbol-simbol vocal arbitrer : arbitrer atau istilah “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya.
4. Suatu system yang berstruktur dari symbol-simbol yang arbitrer. Hubungan antara bunyi dan arti ternyata bebas dari setiap suara hati nurani, logika atau psikologi, namun kerjasama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu, ditandai oleh sejumlah konsistensi, ketetapan intern.
Lalu Apa Sebenarnya Bahasa?
Sebagian orang mendefinisikan bahasa sebagai berikut:
1. Satu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
2. Satu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain
3. Satu kesatuan sistem makna
4. Satu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
5. Satu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh :- Perkataan, kalimat, dan lain lain.)
6. Satu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.
Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada manusia, dinyatakan bahwa bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan. Ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik, atau pakar bahasa.

Namun menurut Jujun, pertama-tama bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini kita mempergunakan bunyi sebagai alat komunikasi dengan mempergunakan alat-alat lain, umpamanya saja dengan menggunakan berbagai isyarat. Manusia menggunakan bunyi sebagai alat komunikasi yang paling utama. Dan tentu saja mereka yang tidak dianugerahi kemampuan bersuara, harus menggunakan alat komunikasi yang lain sebgaimana yang dilakukan oleh orang bisu. Komunikasi semacam ini dikatakan juga kominikasi verbal, dan manusia yang masyarakat dengan alat komunikasi bunyi, disebut juga sebagai masyarakat verbal.
Kedua, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Rangkaian bunyi yang kita kenal sebagai kata melambangkan suatu objek tertentu umpanya saja gunung atau seekor burung merpati. Perkataan gunung atau merpati sebenarnya merupakan lambang yang kita berikan kepada dua objek tersebut. Kiranya patut disadari bahwa kita memberikan lambang kepada dua objek tadi seccara begitu saja, dimana tiap bangsa dengan bahasanya yang berbeda, memberikan lambang yang berbeda pula. Bagi kita objek tersebut kita lambangkan dengan bunyi “gunung” sedangkan bagi bahasa lain dilambangkan dengan Mountain dalam bahasa inggris atau Jaba dalam bahasa Arab. Demkian juga dengan “merpati” yang berubah menjadi dove dalam bahasa Inggris dan Japati dalam bahasa Sunda.

Fungsi Bahasa

Fungsi Bahasa, secara umum, antara lain :
1. Kordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
2. Penetapan pemikiran dan pengungkapan
3. Penyampaian pikiran dan perasaan
4. Penyenangan jiwa
5. Pengurangan goncangan jiwa
Fungsi bahasa, menurut Halliday yang dikutip Thaimah, antara lain :
1. Regulatoris (memerintah dan perbaikan tingkah laku)
2. Interaksional (saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang)
3. Personal (mencurahkan perasaan dan pikiran)
4. Heuristic (mencapai tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya)
5. Imajinatif (mengungkapkan imajinasi dan gambaran tentang discovery)
6. Representasional (menggambarkan wawasan dan pemikiran serta menyampaikan)

Fungsi bahasa, menurut kneller, ada tiga :
1. Fungsi Simbolik
2. Fungsi Emotif
3. Fungsi Afektif
• Matematika

Matematika sebagai bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Alfred North Whitehead mengatakan bahwa “x itu sama sekali tidak berarti”
Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan, untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini, kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Lambang lambang matematika dapat dibuat bersifat artifisial dan individual yang merupakan ketentuan khusus untuk masalah yang sedang dikaji. Sebuah objek yang sedang dikaji dapat dilambangkan dengan apa saja sesuai dengan ketentuan yang kita buat. Misalnya jumlah uang kita lambangkan dengan Y, jumlah buah mangga dilambangkan dengan X dan harga mangga per biji dilambang dengan B. Jika ditanya berapa nilai uang yang harus dibayar untuk mendapatkan sejumlah buah mangga dapat dilambangkan dengan Y = BX. Pernyataan dengan bahasa matematika bersifat jelas, tidak multitafsir dan terbebas dari konotasi emosional.

Kelebihan Matematika dibandingkan dengan bahasa verbal adalah sifat kauntitatif matematika. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan bahasa verbal bila membandingkan 2 benda yang berbeda misal tikus dengan kucing. Dengan bahasa verbal kita dapat menyampaikan bahwa kucing lebih besar dari tikus. Kalau kita ingin mengetahui lebih jauh mengenai ukuran kucing dan tikus tersebut, maka kita akan menemukan kesulitan. Dan jika kita ingin menyampaikan secara eksakta berapa besar perbandingan kedua objek tersebut, maka bahasa verbal tidak dapat menyampaikannya. Dan untuk menjelaskan semua itu secara eksakta, maka memerlukan basaha matematika yang bersifat kuantitatif. Kesimpulannya, bahasa verbal hanya mampu mengatakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Sedangkan sifat kuantitatif dari matematika merupakan daya prediktif dan control dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara tepat dan cermat.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif
Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat didalam ilmu-ilmu empiric, melainkan didasarkan atas deduksi (penjabaran).
Secara deduktif, matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang kita telah temukan sebelumnya. Meskipun “tak pernah ada kejutan dalam logika” (Ludwig Wittgenstein), namun pengetahuan yang didapatkan secara deduktif sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Dari beberapa premis yang kita telah ketahui, kebenarannya dapat diketemukan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbendaharaan ilmiah kita.
Namun demikian menurut Jujun, tidak semua ahli filsafat setuju dengan pernyataan bahwa matematika adalah pengetahuan yang bersifat deduktif. Emanuek kant (1724-1804) misalnya berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan sintetik apriori dimana eksistensi matematika tergantung pada dunia pengalaman kita.

Selain itu, matematika juga dapat digunakan untuk kegiatan praktis sehari-hari misalnya untuk mengukur luas sebuah rumah diperlukan pengukuran dan perhitungan secara matematik.

• Statistika

Pada awalnya statistika diartikan oleh Godfried Achenwall pada tahun1749 sebagai Kumpulan data mengenai negara dan jumlah penduduknya untuk menunjang administrasi pemerintahan atau Ilmu politik dari beberapa negara.
Secara etimologi, kata statistic berasal dari kata “status” (latin) yang punya persamaan arti dengan “state” (bahasa inggris) dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Negara. Pada mulanya statistic diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu Negara. Perkembangannya, arti kata statistic hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.
Secara terminology, dewasa ini istilah statistic terkandung berbagai macam pengertian :
1. Statistic kadang diberi pengertian sebagai data statistic yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan
2. Kegiatan statistic atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan
3. Metode statistic yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.
4. Ilmu statistk adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistic. Adapun metode dan prodesur yang perlu ditempuh atau dipergunakan dalam rangka :
1. Pengumpulan data angka
2. Penyusunan atau pengaturan data angka
3. Penyajian atau penggambaran atau pelukisan data angka
4. Penganalisaan terhadap data angka
5. Penarikan kesimpulan (conclusion)
6. Pembuatan perkiraan (estimation)
7. Penyusunan ramalan (prediction) secara ilmiah
Dalam kamus ilmiah populer, kata statistick berarti table, grafik, data informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis dan klarifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi. Jadi statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.

Peranan Statistika
Statiska bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikiran-pikiran tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya.
Penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan orang. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu dinegara kita. Kita cenderung untuk berpikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif.

Untuk mempercepat perkembangan kegiatan keilmuan dinegara kita maka penguasaan berpikir induktif dengan statistika sebagai alat berpikirnya harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam perjalanan sejarah, statistika memang sering mendapat tempat yang kurang layak. Statistika sebagai disiplin keilmuwan sering dikacaukan dengan statistika yang berupa data yang dikumpulkan.
Statistika merupakan sarana berpikir yang diperluaskan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, maka statistika membantu kita untuk mengeneralisasikan dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
Dr. Ir. Dedi Sufyadi, M.S menyatakan di bidang pembangunan ilmu, kedudukan statistik sangat jelas sebagai salah satu komponen dari sarana berpikir ilmiah di samping logika, bahasa, dan matematika. Bila matematika selalu menuntun kita dalam proses berpikir deduktif, maka statistika senantiasa membimbing kita dalam proses induktif. Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan ciri dari berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik.
Dr. Ir. Dedi Sufyadi, M.S juga mengatakan bahwa peranan statistik sangat banyak dalam penelitian, mulai dari tahap pengambilan sampel sampai dengan tahapan pengujian hipotesis. Dengan demikian dapat dikatakan statistik merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
Oleh karena itu statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan cara dan berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik.

BAB III
KESIMPULAN

Ada tiga sarana berpikir ilmiah yaitu bahasa, matematika dan statitika.
1. Bahasa dapat dikatakan sebagai rangkaian bunyi dan juga dapat dikatakan sebagai simbol/lambang dari sesuatu hal/benda.
2. Matematika, yaitu bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artificial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya.
3. Statistika, yaitu sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.

Peranan Sarana Berpikir Ilmiah
1. Peranan Bahasa
Bahasa berperan sebagai alat berpikir ilmiah dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang yang berlandaskan logika induktif maupun induktif. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar.
2. Peranan Matematika
Secara deduktif, matematika dapat berperan untuk menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis tertentu, walaupun pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya bukanlah konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah yang telah temukan sebelumnya.
3. Peranan Statistika
Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, maka statistika membantu untuk mengeneralisasikan dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2007
Ernst Cassirer, An essay On Man, Yale University Press, New Heaven.
Ludwig Wittgenstein, Tractus Logico-Philosophicus, Routledge & Kegan Paul, London: 1972
Notoatmodjo, Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta: 2002.
S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Filsafat Populer, Pustaka Sinar
Soetriono, MP & Hanafie, Rita, MP, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Penerbit Andi, Yogyakarta: 2007
Sufyadi, Dedi , M.S, Statistik dan Pembangunan, Pikiran-Rakyat (24-09-2007)
Harapan, Jakarta : 2005
Tomasello, M. The Cultural Origins of Human Cognition, Harvard University press, London : 1999
www. wikipedia.org

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    Hyukpie said,

    Wah, trima kasih.. Pmbhasan ini sangat membantu saya untuk memahami buku ‘ilmu dalam perspektif’ yg mrupakan bahan tugas makalah saya..
    Saya ijin ambil bbrp tulisanny y ^^


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: