PERUMUSAN TEORI PENELITIAN

I. Pendahuluan

Manusia memiliki fitrah untuk selalu mencari tahu akan sesuatu yang menjadi fenomena disekitarnya baik fenomena alam maupun fenomena sosial. Dalam rangka mencari tau kebenaran dibalik suatu penomena tersebut, manusia mengadakan pencairan terus menerus dalam bentuk penelitian dengan menggunakan metode tertentu. Dari pencairan tersebut, akan diketahui jawaban mengenai rahasia dibalik fenomena tesebut.

Seperti yang telah disebutkan diatas, penelitian dilakukan dengan menggunakan metode tertentu. Metode dalam sebuah penelitian terdiri dari berbagai tahapan yang harus dilalui seperti dalam rangka memperoleh hasil penelitian yang maksimal. Kesalahan dalam penerapan metode penelitian, akan menyebabkan kesalahan akan hasil yang ditemukan dari penelitian tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan metodologi penelitian yang benar menjadi faktor kunci untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal.

Salah satu tahap dalam penelitian yang memainkan peranan besar dalam suatu penelitian adalah tahapan perumusan teori penelitian. Pada tahapan ini, peneliti mencoba merumuskan teori-teori mana yang akan dipakai dalam melakukan penelitian. Teori yang telah dirumuskan tersebut menjadi alat dalam mengkaji suatu fenomena yang akan diteliti. Oleh kerana itu, tingkat relevansi teori yang dirumuskan dengan masalah yang akan diteliti menjadi sangat penting dalam menunjang keberhasilan suatu penelitian.

Dalam sebuah penelitian, tidak jarang seorang peneliti tidak tepat dalam merumuskan teori yang akan digunakan. Terkadang teori yang digunakan tidak memiliki relevansi dengan masalah yang akan diteliti dan sulit dipahami oleh peneliti itu sendiri dalam kaitannya dalam mendukung kegiatan penelitian. Kesalahan dari seorang peneliti dalam merumuskan teori penelitian, terkadang disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari seorang penliti mengenai hakikat teori itu sendiri, kegunaannya serta pengetahuan tentang teori yang ideal. Oleh karena itu, penulis merasa penting untuk menulis makalah tentang Perumusan Teori Penelitian Hukum.

II. Pembahasan
a. Pengertian Teori Menurut Ilmu-Ilmu Sosial

Tidak jarang bahwa seorang ilmuwan mengalami kesukaran-kesukaran untuk dapat mengemukakan apa yang dimaksudkannya dengan teori. Hal itu terutama disebabkan oleh karena masih adanya anggapan-anggapan (terutama dari kalangan luar ilmu-ilmu social), bahwa teori tidak lain dari pad aide-ide para ilmuwan yang tidak sesuai dengan dari kenyataan, atau bahkan jauh dair kenyataan. Yang dapat disebut teori adalah hal-hal yang dapat memperbaiki taraf hidup dan pergaulan hidup, mempunyai arti yang relative sekali dan banyak tergantung pada cita-cita pribadi. Suatu teori didalam ilmu-ilmu social, bertujuan untuk menyajikan pola-pola yang terjadi dalam kehidupan social manusia. Lagi pula, kebanyakan teor-teori didalam ilmu social, misalnya sosiologi, tidak bersifat konsisten dan tidak menghasilkan hokum-hukum yang bersifat universal. Dengan lain perkataan, spekulasi memegang peranan yang penting didalam merumuskan teori-teori dalam ilmu-ilmu social. Yang sebenarnya perlu diperhatikan adalah, usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan ilmiah, untuk mengurangi spekulasi-spekulasi tersebut, andai kata itu pun ada. (Soerjono Soekanto 1986 ; 122)

Secara umum, menurut Merriam-Webster Dictionary, teori merupakan analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada sekumpulan fakta-fakta.
Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan). Sebuah teori membentuk generalisasi atas banyak observasi dan terdiri atas kumpulan ide yang koheren dan saling berkaitan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori)

Selain itu, sejumlah sarjana mencoba untuk merumuskan apa yang disebutkan teori. Perumusan-perumusan tersebut diantaranya sebagai berikut:( Soerjono Soekanto 1986; 123)

Kerlinger :
“ A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaning and predicting the phenomena.”
Black & Champion :
“A theory is set of sytematically related propositions specifying causal relationships among variabels.”
Dari definisi diatas, Kerlinger menyatakan bahwa suatu teori adalah satu set konsep , definisi dan proposisi yang saling berhubungan secara sistematis, menyajikan sebuah gambaran tentang suatu fenomena dengan menjelaskan hubungan antar variabel, bertujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut. Adapun Black & Champion mendefiniskan teori sedikit lebih ringkas bahwa suatu teori adalah satu set proposisi yang saling berhubungan secara sistematis untuk menjelaskan hubungan sebab akibat antar variabel.
b. Kriteria Teori Ideal
Agar teori-teori bersifat lebih konkrit, maka biasanya dikemukakan beberapa kriteria ideal dari teori, yang mencakup hal-hal, sebagai berikut:
1. Suatu teori secara logis harus konsisten; artinya, tidak ada hal-hal yang saling bertentangan didalam kerangka yang bersangkutan;
2. Suatu teori terdiri dari pernyataan-pernyataan mengenai gejala-gejala tertentu, pernyataan-pernyataan mana mempunyai interrelasi yang serasi;
3. Pernyataan-pernyataan didalam suatu teori, harus dapat mencakup semua unsur gejala yang menjadi ruang lingkupnya, dan masing-masing bersifat tuntas;
4. Tidak ada pengulangan ataupun duplikasi didalam pernyataan-pernyataan tersebut
5. Suatu teori harus dapat diuji didalam penelitian. Menganai hal ini ada asumsi-asumsi tertentu, yang membatasi diri pada pernyataan, bahwa penyataan tersebut senantiasa harus bersifat empiris (James A. Black & Dean J. Champion : 1976)
Kriteria tersebut diatas, sebagaimana dinyatakan dimuka, bersifat ideal. Artinya, seorang ilmuan senantiasa harus berusaha untuk sebanyak mungkin mendekati kriteria tersebut, apabila kegiatannya hendak dikwalifikasikan sebagai teori.
c. Perumusan Teori
Didalam kenyataannya memang agak sulit untuk merumuskan teori dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya dalam sosiologi. Biasanya hasil-hasil pemikiran yang secara teoritis dianggap relevan disusun dan disistematisasikan serta diberi nama seperti kerangka acuan (”Frame of reference’), perspektif-perspektif, orientasu-orientasi,a tau mungkin juga pendekatan-pendekatan. Yang sebenarnya menjadi inti dari semuanya itu adalah terutama, suatu identifikasi terhadap aspek-aspek sosial yang dianggap relevan bagi kegiatan-kegiatan ilmiah tertentu. Yang sangat penting adalah bagaimana menyusun suatu skema (tentatif) untuk dapat mengidentifikasikan komponen-komponen teoritis dari ilmu-ilmu sosial tertentu. Untuk itu dapat dibuatkan suatu pedoman sementara sebagai berikut: ( Soerjono Soekanto 1986; 124)
1. Asumsi dan ide-ide yang mencakup premise-premise mengenai aspek-aspek tertentu dari kehidupan sosial. Misalnya, teori-teori dari Talcott Parons didasarkan pada asumsi mengenai kecenderungan adanya keserasian fungsionil antara unsur-unsur dalam masyarakat.
2. Kerangka acuan yang pada dasarnya mengadakan identifikasi terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti atau ilmuwan tertentu.
3. Konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi-abstraksi dari hasil pemikiran. Didalam sosiologi ada konsepsi-konsepsi seperti, misalnya, kelompok, interaksi, lembaga sosial, dan seterusnya.
4. Variabel-variabel yang merupakan karakteristik daripada gejala-gejala tertentu.
5. Proposisi yang merupakan pernyataan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih.
6. Teori-teori

Secara skematis gambarannya adalah sebagai berikut (James A. Black & Dean J. Champion: 1976) :
Asumsi dan Ide – ide
Kerangka Acuan Penerapan Empiris
Konsep-Konsep
Variabel-Variabel
Proposisi Operasionalisasi
Teori-teori
Dengan berpegang pada hal-hal yang diuraikan diatas, maka didalam berteori seorang ilmuwan dalam bidang ilmu-ilmu sosial ingin mencapai tujuan-tujuan utama, sebagai berikut:
1. Mengorganisasikan dan mengklasifikasikan gejala-gejala sosial ke dalam perspektif-perspektif tertentu
2. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya gejala-gejala sosial pada masa lampau, dan mencoba mengadakan proyeksi bilamana, dimana dan bagaimana gejala-gejala dimasa depan akan terjadi
3. Memahami apa sebabnya dan bagaimana gejal-gejala sosial terjadi atau seharusnya terjadi.
Atas dasar hal tersebut, maka Kelly berhasil merumuskan suatu pengertian yang sangat sederhana mengenai teori, yang dikatakannya sebagai suatu cara untuk mengklasifikasikan fakta, sehingga kesemua fakta tersebut dapat dipahami sekaligus ( Soerjono Soekanto 1986; 125)
Didalam proses penelitian, apabila dijumpai kesulitan untuk membentuk teori atau mencari teori agar dapat menyusun kerangka teoritis, maka ditempuh cara menyusun model-model teoritis. Model tersebut sebenarnya merupakan simplikasi yang sistematis dari unsur-unsur yang mempunyai hubungan.Model-model tersebut merupakan gambaran tentang tentatif dari teori, membatasi batas-batas teori dan akan dapat memberikan kemampuan untuk memahami kerangka hubungan-hubungan antar variabel.
Untuk menyusun kerangka teoritis, maka seorang peneliti dapat menerapkan methode induktif atau deduktif (atau bahkan kedua-duanya). Metode induksi merupakan cara yang bertitik tolak pada hal-hal yang khusus, untuk kemudian menarik kesimpulan kesimpulan umum atas dasar aspek-aspek yang sama pada hal-hal yang khusus tersebut. Dengan demikian apabila seseorang peneliti telah berhasil menjelaskan urutan gejal-gejala tertentu, hubungan antara gejala-gejala tersebut, untuk kemudian menemukan pola persamaan dan perbedaannya, maka dia telah berhasil untuk merumuskan suatu teori. Memang, sepanjang hal tersebut menyangkut gejala-gejala sosial, maka sangat sulit untuk mengadakan pengkuran –pengukuran eksak, sehingga dihasilkan hukum-hukum tertentu. Hal tersebut terutama disebabkan oleh kompleksitas gejala-gejala sosial tersebut, variasi-variasi yang mungkin terjadi karena pengaruh pribadi atau lingkungan, dan juga karena kemungkinan terjadinya gejala-gejala yang khas. Timbul pula pertanyaan, kalau demikian apa bedanya anatara teori, hipotesa dengan hukum (“a law”)
d. Kegunaan Teori
Ada asumsi yang menyatakan bahwa bagi suatu penelitian, teori atau kerangka teoritus mempunyai beberapa kegunaan. Kegunaan tersebut paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut: ( Soerjono Soekanto 1986; 121)
1. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
2. Teori sangat berguna didalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi.
3. Teori biasanya merupakan suatu ikhtiar dari hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut obyek yagn diteliti.
4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang
5. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti.

6. Penutup

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulakn sebagai berikut:

DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta : 1986
Ashshofa, Burhan, S.H, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta:1996
Sunggono, Bambang, S.H.,M.S, Metodologi Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta:1996.
Bisri, Cik Hasan, Drs, MS, Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama Islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2001
Sudrajat, Akhmad, Hakekat Teori, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/07/hakikat-teori, 7 Februari 2008.
Djunaedi, Achmad, Unsur-Unsur Proposal Penelitian, http://bahankuliah.files. wordpress.com/2008/02/1-kuliah-02, 2000.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: