Amuk Mimpi

AMUK MIMPI
Oleh : M. Anis Matta, LC

Amarah. Ambisi. Dua nila ini, jika menetas dalam jiwa yang buruk, maka sejarah berubah menjadi angkara murka yang meluluhlantakkan kehidupan. Tapi tidak, jika ia menetas dalam jiwa-jiwa yang luhur. Ia bukan lagi nila. Ia embun yang menyegarkan padang rumput dipagi hari, sembari menjemput matahari kehidupan.
Sebab kamu tidak mungkin bisa melawan tirani kekuasaan kecuali dengan kekuatan amarah kehormatan. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi keabadian, kamu bisa mendirikan imperium kebenaran. Sebab kamu tidak mungkin bisa melawan iblismu sendiri kecuali dengan kekuatan amarah malaikat penjaga neraka. Sebab, hanya ketika kamu memiliki ambisi meraih surga tertinggi kamu bisa mengalahkan gemuruh rayuan kekuasaan dalam dirimu.
Tidak ada yang salah dengan amarah dan ambisi kecuali jika dia memasuki jiwa yang buruk atau lemah. Ketika itu lah Rasul kita berkata,” Jangan berikan kekuasaan ini kepada yang mengharapkannya.” Ketika itulah, Rasul kita berkata kepada Abu Dzar yang datang meminta jabatan. “Wahai Abu Dzar, kamu orang yang lemah. Sedang jabatan ini amanah. Di akhirat nanti ia akan menjadi sumber penyesalan.”
Tapi dalam jiwa-jiwa yang luhur dan kuat, ia akan menjadi semacam amuk mimpi yang dapat menciptakan drama kehidupan mengharu biru. Ketika itu lah Nabi kita, Yusuf AS dengan gagah berkata kepada Raja Mesir, “ Berikan aku kuasa memegang keuangan negara. Aku sanggup menjaganya dan menguasai seluk beluknya.” Ketika itu lah Nabi kita, Sulaiman AS berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku imperium yang luas dan besar. Jangan ada lagi yang boleh memilikinya sesudahku”.
Di antara amarah dan ambisi yang dapat menjadi nila dan dapat menjadi embun, berdiri tabir tipis yang seringkali tidak tampak. Hanya ketika kamu memiliki mata hati yang tajam, kamu dapat melihatnya. Hanya kamu sendiri yang dapat menentukannya: apakah ini nila atau embun. Seperti kisah Al Qur’an, ambisi yang lahir dari jiwa-jiwa yang luhur bagaikan “Susu yang mengalir di antara kotoran dan darah: murni dan menyegarkan bagi siapa yang meminumnya.”
Itu terjadi ketika kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sejarah, kesadaran akan besarnya kapasitas diri, desakan kerusakan lingkungan, tantangan besar dari kebatilan, bercampur jadi satu. Maka menarilah sang bidadari: “Kamu harus menjadi sesuatu dalam sejarah. Dan kamu bisa. Kamu harus mendapatkan aku dalam surga. Dan kamu bisa.”
Begitulah kejadiannya. Dalam satu pertempuran, Rasulullah SAW menawarkan tantangan kepada para sahabatnya. “Besok”, kata beliau ketika malam, “Akan kuberikan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Allah mencintainya.” Maka berbisiklah Umar bin Khattab dalam dirinya, “Tidak pernah aku berambisi meraih sesuatu kecuali pada malam itu.”
Keesokan harinya, Sang Rasul menyerahkan bendera perang itu. Tidak pada Umar. Tapi kepada Ali. Itu tidak mengurangi kebesaran Umar. Tapi dia sudah bilang, dia pernah punya mimpi itu.

Sumber : Tarbawi, Edisi 68 Th.5/Rajab 1424 H/18 September 2003 M (hlm. 72)

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    artikel menarik.. trima kasih dah di share

    • 2

      duscikceolah said,

      Terima kasih kembali dan salam kenal. Saya sangat suka dg artikel ini dan beberapa artikel lainnya yg ditulis oleh ust anis mata.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: