Tawa Bocah Pengantar Surat di Lautan Sampah

Jumat, 22 Februari 2013, 05:49 Wib

Sampah Bantar Gebang

Edwin/Republika
Sampah Bantar Gebang

REPUBLIKA.CO.ID, Suara deru mesin truk pengangkut sampah yang mengantre di depan pintu gerbang TPST Bantargebang tidak cukup kuat untuk menutupi teriakan Mul (9 tahun). Bocah itu terus berteriak kepada para supir untuk menawarkan jasa mengantarkan surat jalan ke loket jembatan timbang dan loket administrasi TPST Bantar Gebang.

Bau sampah menyengat yang keluar dari barisan truk tersebut juga tidak dihiraukannya. Begitu juga dengan genangan air yang sudah bercampur dengan cairan sampah yang menetes dari kendaraan besar itu.

“Pantura tuh!” teriak salah satu anak sembari menunjuk ke arah jalan masuk TPST.

Benar saja. Tak lama kemudian, truk sampah berukuran besar dengan tulisan PANTURA di kaca depannya mulai ikut mengantri. Mul dan kedua teman sebayanya langsung berlari menghampiri truk tersebut.

Mul sampai terlebih dahulu dan langsung berteriak di samping truk. “Sini bang, saya anterin“.

Supir itu memberikan surat jalannya kepada bocah yang mengenakan kostum salah satu klub sepak bola asal Inggris, Chelsea itu.

Begitu menerima surat, bocah itu langsung berlari menuju loket dan menyerahkannya pada penjaga untuk distempel. Dia lalu menunggu hingga truk pengguna jasanya sampai di depan loket.

Sambil menyerahkan surat, Mul juga menawarkan jasa membuka terpal yang menutupi sampah. Sang supir setuju. Ia pun langsung memanjat bak truk dan ikut ke dalam tempat pembuangan sampah di dalam komplek TPST.

Sekali mengantarkan surat jalan, biasanya Mul mendapat upah dua ribu hingga lima ribu rupiah. Jika termasuk membuka terpal, dia akan mendapatkan upah tambahan menjadi Rp 10 ribu.

Dalam sehari, setidaknya dia bisa mengantongi Rp 50 ribu. “Duitnya dikasi ke emak, buat bayaran sekolah,” katanya polos.

Mul memang tinggal tidak jauh dari TPST Bantargebang. Tepatnya di RT 001/05 Kampung Cikeuting Udik, Bantar Gebang. Dia bersekolah di SD Dinamika Indonesia, yang juga tidak jauh dari rumahnya.

Orang tuanya yang berasal dari Indramayu terpaksa mengizinkan anaknya bekerja. Ini lantaran penghasilan sebagai pemulung dianggap masih belum cukup.

Pengen jadi supir truk, enak bisa sekalian jalan-jalan,” ujarnya ketika ditanya soal cita-cita.

Mul mulai bekerja usai sekolah, sekira pukul 11.00 WIB. Ia baru kembali ke rumah menjelang pukul 17.00 WIB. Meski pun begitu, ia tetap menganggap apa yang dilakukannya tersebut sebagai permainan.

Apalagi, ketika bekerja dia selalu bersenda gurau dengan teman sebaya yang juga ikut membantu para supir truk. Mungkin Mul tidak ambil pusing sudah berapa banyak sampah yang berada di TPST Bantar Gebang. Tapi satu hal yang dia tahu, sampah itulah yang selama ini menghidupi keluarganya.

Besok, lusa, satu pekan, atau bahkan satu bulan ke depan, kaki-kaki kecil Mul akan terus berlarian di depan pintu gerbang TPST Bantar Gebang. Dia juga masih akan terus berteriak kepada supir-supir truk sampah yang mengantre agar bisa melayani mereka untuk sekedar mengantarkan surat jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: