TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM

TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM

Oleh : Duscik Ce’olah

A.     Latar Belakang

 Tawarruq merupakan salah satu skema transaksi syariah yang dapat digunakan sebagai alternatif bagi pihak-pihak yang sangat membutuhkan uang tunai tapi tidak mendapatkan pihak yang dapat memberikan talangan/pinjaman bebas riba. Dalam masyarakat tradisional, skema ini diterapkan antara individu, sedangkan pada masa sekarang skema ini mulai diterapkan di lembaga keuangan syariah di luar negeri. Salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat dalam menerapkan skema ini adalah masih kurangnnya pemahaman masyarakat yang dikarenakan terbatasnya pembahasan/literatur tentang skema ini terutama literatur dalam bahasa indonesia. Berdasarkan kondisi diatas, penulis tertarik untuk menulis secara singkat tentang Tawarruq berdasarkan tinjauan pustaka dengan judul  “TAWARRUQ DALAM PERSEPKTIF HUKUM ISLAM”

 B.     Pembahasan

 Pengertian Tawarruq

Berdasarkan Qomuus Muhiith sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Ibrahim Fadhil Dabu dalam artikelnya yang berjudul Tawarruq, It’s Reality and Types,  kata tawarruq berasal dari kata kertas dan koin dirham yang terbuat dari perak atau uang yang terbuat dari dirham. Jamak dari tawarruq adalah awraaq yaitu kertas yang berfungsi menggantikan uang atau uang kertas.  Sementara itu, Nibrahosen (2008) menyatakan bahwa dalam Bahasa Arab, akar kata dari tawaruq adalah “wariq” yang artinya : simbol atau karakter dari  perak (silver).  Kata tawarruq ini di gunakan untuk mengartikan,  mencari perak, sama dengan kata ta allum, yang arti nya mencari ilmu, yaitu belajar atau sekolah. Kata tawarruq dapat di artikan dengan lebih luas yaitu  mencari uang tunai dengan berbagai cara yaitu bisa dengan mencari perak, emas atau koin yang lainnya.

Sedangkan secara istilah, Prof. Dr. Ibrahim Fadhil Dabu mengartikan tawarruq sebagai suatu kegiatan dimana ketika seorang membeli suatu komoditi secara kredit (angsuran) pada harga tertentu dan kemudian menjualnya untuk mendapatkan likuiditas (uang) kepada pihak lain (secara tunai) pada harga yang lebih rendah dari harga asalnya. Jika orang tersebut menjualnya ke pihak penjual pertama, maka hal tersebut menjadi tergolong transaksi terlarang yang disebut Al-Inah. Adapun Nibrah Hosen secara literatur mengartikan istilah tawarruq adalah sebagai berbagai cara yang di tempuh untuk mendapatkan uang tunai atau likuditas. Istilah tawarruq ini di perkenalkan oleh Mazhab Hambali. Mazhab Shafi’i mengenal tawarruq dengan sebutan “zarnagah”, yang artinya bertambah atau berkembang. Masih menurut Nibra Hosen, dalam Hukum Islam, tawarruq artinya adalah struktur yang dapat dilakukan oleh seorang mustawriq/mutawarriq yatiu seorang yang membutuhkan likuditas. Transaksi tawarruq adalah ketika seseorang membeli sebuah produk dengan cara kredit (pembayaran dengan cicilan) dan menjualnya kembali kepada orang ke tiga yang bukan pemilik pertama produk tersebut dengan cara tunai, dengan harga yang lebih murah.

 

Ragam Format Tawarruq

Ada 3 formasi dari  tawarruq: (Nibra Hosen 2008)

1.   Seseorang yang membutuhkan likuditas (uang tunai) membeli produk/barang/komoditi dengan cara kredit dan menjualnya kepada pihak lain dengan cara tunai, tanpa di ketahui oleh pihak pihak lain akan niatnya tersebut di atas.

2.   Seseorang (mutawarriq) yang membutuhkan uang tunai, memohon untuk diberikan pinjaman uang dari penjual yang menolak untuk meminjamkan uangnya, tapi penjual tersebut berkeinginan untuk menjual barangnya dengan cara kredit dengan harga tunai, lalu mutawarriq tersebut dapat menjual kembali barang tersebut kepada orang lain dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi.

Kedua formasi transaksi tawarruq ini dapat di terima dan di izinkan oleh para Ulama tanpa ada nya perdebatan.

3.   Hampir sama dengan formasi no. 2, kecuali si penjual, menjual barangnya dengan harga yang lebih mahal dari harga pasar kepada Mutawarriq, sebagai akibat dari pembayaran yang tertunda/dengan cicilan. Formasi ini masih diperdebatkan oleh para pakar Hukum ekonomi syariah.

Pengertian dan format tawarruq sebagaimana diuraikan diatas merupakan pengertian dan format tawarruq murni yang sering disebut sebagai tawarruq fiqih atau clasical tawarruq. Sedangkan tawarruq yang diterapkan oleh perbankan syariah disebut tawarruq munazam atau organized tawarruq.

 

Pembahasan Para Pakar Ekonomi Syariah

Berdasarkan hasil studi kepustakaan ditemukan berbagai penelitian yang membahas tentang tawarruq. Prof. Dr. Ibrhim Fadhil Dabu dalam jurnalnya yang berjudul Tawarruq, It’s Reality and Types menyimpulkan bahwa ada dua jenis tawarruq yaitu  clasic tawarruq (tawarruq klasik) dan organized tawarruq.  Selain itu juga diungkapkan bahwa sebagian besar ulama klasik dan ulama komtemporer memperbolehkan tawarruq klasik karena kenyataannya bebas dari riba dan tidak mengandung transaksi ’inah. Adapun organized tawarruq dilarang oleh sebagian besar ulama kontemporer karena terdapat riba didalamnya. Salah Al Shalhoob dalam jurnalnya yang berjudul Organized Tawarruq In Islamic Law menyimpulkan bahwa organized tawarruq yang dipraktekkan  dewasa ini tidak dapat diterima dalam hukum islam.  Namun demikian menurutnya, organized tawarruq masih lebih baik dari pada mempraktekkan riba karena setidaknya ada beberapa ulama yang tidak sependapat bahwa organized tawarruq dilarang, disisi lain terdapat konsensus bahwa riba dilarang dalam hukum islam. Dengan demikian, jika seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan dana untuk sesuatu yang penting, seperti untuk tempat tinggal, berobat dan  sebagainya, terdapat jalan yang membolehkan bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Selanjutnya, seorang pakar ekonomi syariah asal negeri jiran Malaysia, Dr.Aznan Hasan mengemukan pendapat yang agak berbeda tentang Organanized tawarruq. Dalam jurnalnya yang berjudul Why Tawarruq Needs To Stay; Strengthen the practice, rather than probihiting it, Dr.Aznan Hasan mengemukakan pandangan atas keputusan OIC’s International Fiqh Academy Council yang melarang praktek organized tawarruq dan reverse tawarruq. Menurutnya, memperbaiki praktek tawarruq lebih baik dari pada melarangnya. Ada beberapa kondisi atas praktek tawarruq yang tidak sesuai dengan hukum islam dan hal tersebut dapat diperbaiki sehingga pada akhirnya transaksi tawarruq dapat diterima dan diperbolehkan.

Sementara itu, Dr. Engku Rabiah Adawiah Engku Ali yang juga dari Malayasia, dalam tulisannya yang berjudul Bay’ Al-‘Inah and Tawarruq; Mechanisms and Solutons yang terangkum dalam buku berjudul Essential Reading in Islamic Finance (2008), menyimpulkan bahwa kontroversi seputar kontrak jual beli al-‘Inah dan tawarruq paling utama mengenai polemik klasik tentang adanya hilah. Sepanjang hilah dianggap sebagai momok bagi agama dan ajarannya, bay’ al-‘Inah dan tawarruq sebagaimana yang dipraktekkan oleh perbankan dan lembaga keuangan syariah tidak akan pernah diterima secara positif sebagai alternatif atas praktek berbasis riba pada perbankan dan lembaga keuangan konvensional. Selanjutnya, jika hilah dipandang sebagai sebuah mekanisme untuk memecahkan masalah kebutuhan yang mendesak dari masyarakat, maka ada peluang praktek tersebut dapat diterima sebagai alternatif sesuai syariah.

 

Pendapat Ulama

Sebagian ulama berketetapan bahwa hukum bay tawarruq adalah makruh. Ketetapan hukum ini adalah pendapat salah satu pendapat dari mazhab Hanbali. Pendapat ini diambil oleh Ibnu Taymiyah. Alasan mereka, bahwa jual beli ini seolah-olah seseorang menjual dirham dengan dirham yang lebih banyak atau meminjam dirham dan membayarnya dengan dirham yang lebih banyak sebagai kompensasi dari masa penantian. Jual beli ini mirip dengan riba. Meskipun bukan riba yang sesungguhnya.(Muhammad Rawwas Qal’ah Jiy, Al-Muamalah maliyah al-Mu’ashirah, Beirut, Dar al-Tanafus, 1999)

Menurut ulama jumhur, hukumnya boleh, karena telah terpenuhi syarat dan rukun jual beli. Alasan pemikiran mereka ialah bahwa  jual beli tawarruq ini tidak terdapat larangan syariah padanya. Karena itu ia termasuk al-ibahah al-ashliyah (hukum dasarnya memang boleh), sesuai dengan kaedah,”Pada dasarnya semua akad itu dibolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya”

Dasar pemikiran berikutnya ialah

الناس  اليوم محتاجون الى بيع التورق  للأن القرض الحسن قد قل أهله فمن احتاج الى المال لا يجد من يقرضه  وقد يضطر الى شراء سلعة بالتقسيط أو بثمن أجل ثم يبيعه -ولو يخسارة-  بثمن حال ليقضي بثمنها حاجته

Orang-orang di zaman sekarang membutuhkan bay’ tawarruq, karena qardhul hasan sangat sedikit orangnya (lembaga yang memiliki produk ini.red). Orang yang memerlukan uang tidak menemukan orang yang mau meminjamkan uang kepadanya. Maka  terpaksa-lah ia membeli barang secara cicilan atau dengan bayaran  secara kredit kemudian menjualnya kembali dengan harga cash –meskipun ia rugi karena lebih murah-.Hal ini ia lakukan  agar keperluannya terpenuhi yakni mendapatkan uang (wariq) sekarang.(Ibid..hlm.86)

Diantara ulama yang berpendapat membolehkan tersebut adalah Iyas bin Muawiyah serta salah satu riwayat Imam Ahmad. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Abdurrahman bin nashir Ass-Sa’dy dan Syaikh ‘Abdul Aziz bin Bas sebagaimana dalam Taudihul Ahkam (4/398), Syaikh Sholih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti (8/232).

Namun demikian, Syaikhn Utsaimin menyaratkan bolehnya dengan beberapa ketentuan yaitu;

  1. Ia butuh melakukan transaksi tersebut dengan kebutuhan yang jelas.
  2. Sulit baginya memenuhi keperluannya dengan jalan Al-Qardh (pinjaman) maupun lainnya.
  3. Hendaknya barang yang akan ditransaksikan telah dipegang dan dikuasai oleh penjual.

Memperhatikan ketentuan yang disyaratkan oleh Syaik Utsaimin tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dibolehkannya seseorang melakukan transaksi tawarruq harus untuk kebutuhan yang jelas dan memang tidak ada jalan lain untuk mendapatkan uang tunai serta terpenuhinya syarat-syarat syahnya jual beli.

Sementara itu, Ulama kontemporer Dr. Rafik Yunus Al-Misri berpendapat bahwa  hukum tawarruq bervariasi tergantung dari kondisi diantaranya;

  1. Jika ketiga pihak yang terlibat dalam tawarruq  mengetahui bahwa tujuan utama dari pembeli menggunakan transaksi tawarruq adalah untuk mendapatkan uang tunai, maka semua mereka berdosa.
  2. Jika dua pihak mengetahui bahwa penjual telah menggunakan transaksi tawarruq untung mendapatkan uang tunai maka mereka berdua berdosa. Namun jika mereka tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari penjual, maka mereka tidak berdosa.
  3. Seseorang diperbolehkan melakukan tawarruq hanya dalam keadaan sangat membutuhkan/terdesak.

Berdasarkan poin 1 dan 2 diatas, dapat dikatakan bahwa tawarruq diperbolehkan jika tidak bersifat dikondisikan oleh pihak-pihak yang terlibat. Adapun poin 3 lebih menekankan bahwa tawarruq diperboleh hanya untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan/mendesak seperti untuk membayar hutang atau untuk berobat.

Selain itu, ada juga ulama yang melarang tawarruq diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal (Ibnu Qudamah, Al-Mugni, p.195-196). Dalil yang sering digunakan oleh mereka yang melarang tawarruq adalah hadist nabi dibawah ini;

Diriwayatkan Abu Huiroiroh ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Jika kamu melakukan jual beli secara ‘inah, mengambil ekor sapi, rela dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Alloh SWT akan melimpahkan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Daud)

 Struktru Tawarruq hampir sama dengan struktru Inah. Perbedaan keduanya sangat sedikit yanitu terletak pada tempat penjualan barang kembali. Bila pada Inah, barang yang dibeli secara kredit tersebut dijual kembali ke penjual pertama (pemilik awal barang) sedangkan pada Tawrruq, barang dijual kembali kepada pihak ketiga (buka penjual pertama). Oleh karena itu, dianggap bahwa sebenarnya Tawarruq itu sama saja dengan Inah yang dilarang oleh Allah SWT.

 

C.     Kesimpulan

Ulama masih memboleh penerapan tawarruq fiqih dimasyarakat tapi masih berbeda pendapat tentang organized tawarruq  yang diterapkan diperbankan syariah.

 

D.    Daftar Pustaka

 Al-Bukhary, ‘Ala al-Din ibn ‘Abd al-‘Aziz Ibn Ahmad, Kasyf alAsrar ‘an Ushul al-Bazdawy, Dar al-Kitab al-‘Araby, Beirut, 1394 H

Al-Kasany, Abu Bakr ibn Mas’ud. Tahqiq: ‘Ali Muhammad Mu’awwadh dan ‘Adil ‘Abd al-Maujud Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Beirut. Cetakan pertama, 1418 H

Al-Maqdisy, Abu Muhammad Abdullah ibn Ahmad Ibn Qudamah, Raudhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhi, Maktabah al-Rusyd. Riyadh. Cetakan pertama:1416 H

Bakar, Mohd Daud, Dr dan Ali, Engku Rabiah Adawiah Engku, Dr, Essential Reading in Islamic Financing,  CERT, Kuala Lumpur, 2008

Karim, Adiwarman Karim Ir, SE, MBA, MAEP, Bank Islam; Analisis Fiqih dan Keuangan,(Edisi Kedua), RajaGrafindo, Jakarta, 2004

Djazuli, Prof. H. A, Kaidah-Kaidah Fiqih, Prenada Media Group, Jakarta, 2007

Ibn Manzhur , Abu al-Fadhl Muhammad Ibn Mukrim, Lisan al-‘Arab, Dar Shadir, Beirut, Cetakan pertama, 1410 H

Ismail, Sya’ban Muhammad.Dr, Ushul Fiqh al-Muyassar. Dar al-Kitab al-Jami’iy. Kairo, Cetakan pertama, 1415 H

Dabu,  Ibrhim Fadhil, Prof. Dr,  Tawarruq, It’s Reality and Types, tanpa tahun.

Hasan, Aznan, Dr, Why tawarruq needs to stay; Strengthen the practise, rather than prohibiting that, www.Islamicfinancenews.com, 2009

Hosen, Nibra, Tawarruq, www.nibrahosen.blogspot.com , 2008

 Al-Shalhoob, Salah, Organised Tawarruq in Islamic Law  A Study of Organised Tawarruq as Practised  in the Financial Institutions in Saudi Arabia, Edinburgh, UK, tanpa tahun. 

Penelitian Kodifikasi Produk Perbankan Syariah Internasional, Bank Indonesia, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: