BELAJAR DARI QATAR

BELAJAR DARI QATAR

(oleh : Duscik Ce’olah)

 

Qatar, sebuah negara kecil di teluk persia dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 300 ribu jiwa dengan kekayaan alam yang melimpah berupa minyak dan gas. Sebuah negara yang sukses mengelola kekayaan alamnya untuk kemakmuran rakyat dan menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita yang sangat tinggi. Cerita tentang Qatar dengan kekayaan alam dan kemakmurannya, banyak hal yang dapat kita ambil pembelajaran yang sangat berharga yang dapat dijadikan referensi bagi pemimpin dan rakyat negara lain termasuk Indonesia.

Pertama; Qatar paham akan kekecilannya. Oleh karena itu, ia memegang prinsip untuk berteman dengan semua bangsa dan organisasi. Dengan demikian, ia memiliki keuntungan secara diplomasi yang berguna dalam memperjuangkan kepentingannya. Dalam sebuah wawancara televisi amerika, mantan Emir Qatar, Syeikh Hamad bin Khalifah Al Tani mengatakan bahwa tidak ada kebijakan yang lebih baik bagi sebuah negara kecil kecuali bersahabat dengan semua bangsa.

Terletak diantara dua raksasa timur tengah yaitu Arab Saudi dan Iran yang selama beberapa dekade selalu berseberangan dalam berbagai hal terutama permasalahan suni dan syiah, Qatar yang merupakan negara suni dituntut untuk cerdas dalam memainkan perannya dalam menjaga stabilitas nasional ditengah stabilitas kawasan yang terus bergejolak.

Dengan paham akan kekecilannya, Qatar menjaga hubungan baik dengan barat terutama Ingris, Jerman, Perancis dan Amerika yang merupakan kekuatan utama barat. Dalam hubungan militer, Qatar menjadikan negaranya sebagai pangkalan militer utama Amerika di Timur Tengah. Kerjasama ini menjadikan Qatar sebagai mitra strategis bagi Amerika yang memberikan keuntungan bagi Qatar dalam hubungan Diplomasi Internasioal. Biasanya, sebuah negara yang menjadi pangkalan militer bagi amerika dianggap sebagai negara yang lemah dan menjadi “alat” Amerika dalam menekan negara tersebut dan negara-negara disekitarnya. Tapi kasus Qatar berbeda, Qatar mengambil sisi positif dari kehadiran pangkalan militer Amerika dimana militer Amerika tersebut menjadi satpam gratis bagi Qatar dalam melindungi negaranya yang kecil namun kaya akan minyak dan gas yang terletak dikawasan yang tak henti bergejolak oleh isu Israel – Palestina dan isue sekterian antara sunni dan syiah.

Kedua; Qatar paham akan pentingnya soft power. Paham betul bahwa negara pemenang dalam era modern sekarang adalah negara yang memiliki soft power terkuat bukan militer terkuat sebagai mana era perang dingin dan sebelumnya. Oleh karena itu, Qatar membangun kekuatan ekonomi dan menggunakan kekayaan alamnya untuk membagun bisnis yang baik secara langsung dan tidak langsung memberikan keuntungan bagi kegiatan diplomasi Qatar di dunia internasional. Dalam rangka itu, Qatar membangun raksasa media Al jazeera yang menyiarkan berita keseluruh dunia dalam berbagai bahasa seperti bahasa Arab, Ingris, Turki, Urdu dan lainnya. Al Jazeera juga merambah bisnis disektor olah raga dengan brand beIN Sport yang memegang berbagai lisensi siaran kegiatan olah raga ternama di dunia. Dibidang investasi Qatar membangun raksasa investasi berupa holding Qatar Investment Authority (QIA) yang membeli sejumlah saham perusahaan kelas dunia seperti raksasa otomotif VolksWagon, Harrods, Barclays Bank, Klub Sepakbola Paris Saint Germain dan perusahaan telekomunikasi Indosat di Indonesia (melalui Qatar Telecom) dan berbagai perusahaan raksasa lainnya. Alhasil, dengan kondisi diatas, Qatar memiliki soft power yang kuat yang sangat membantunya dalam kegiatan diplomasi di dunia internasional.

Ketiga; Qatar paham pentingnya suksesi kepemimpinan. Suksesi kepemimpinan melalui kudeta tidak berdarah pada tahun 1995 yang dilakukan oleh mantan Emir Qatar Sheikh Hamad Al Thani terhadap ayahnya, merupakan awal kebangkitan Qatar menjadi negara yang kuat dan disegani baik regional maupun internasional. Hamad Al Thani melakukan modernisasi negaranya dan mengelola kekayaan alamnya untuk mendorong perekonomian negaranya sehingga menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia. Sadar akan pentingnya suksesi kepemimpinan, pada tahun 2013, di saat Sheikh Hamad Al Thani masih produktif dan berpengaruh serta didukung oleh rakyatnya untuk tetap menjadi Emir, ia menyerahkan tahta kepemimpinan Qatar kepada putranya Sheikh Hamim yang baru berusia 33 tahun. Hal ini jarang sekali terjadi didunia, seorang pemimpin yang masih produktif dan didukung oleh rakyatnya, secara sukarela dengan penuh kesadaran menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada penggantinya, terutama dinegara yang otoriter terlebih lagi dinegara monarki. Dalam acara sebuah acara di Televisi Al Jazeera Internasional, Inside Story, seorang Chief Editor Qatar Tribune mengatakan mundurnya sang Emir dari tahtanya karena karakternya bukan karena tekanan dari pihak lain. Ia mengatakan bahwa Qatar ingin mengirim pesan kepada dunia, bahwa kita tidak harus memegang kekuasaan selamanya. Ada cara untuk mengalihkan kepemimpinan kepada generasi berikutnya tanpa harus melukai rakayat dan menghancurkan negara.

Keempat; Qatar paham pentingnya menjalin hubungan baik dengan kelompok yang dianggap musuh oleh bangsa lain. Lihat saja bagaimana Qatar menjalin hubungan baik dengan Hamas yang dianggap sebagai kelompok yang membahayakan bagi Israel dan Barat. Qatar juga menjalin hubungan baik dengan Taliban yang dianggap teroris bagi pemerintah Afghanistan dan Amerika Serikat serta sekutunya. Bahkan Qatar mengizinkan Taliban membuka kantor perwakilan di Doha. Begitu juga dengan kelompok perjuangan Front Al Nusra di Suriah yang masih terafiliasi dengna Al Qaeda yang merupakan kelompok yang dianggap terorist oleh barat, Qatar juga menjalin hubungan baik. Bahkan sejumlah pihak menuduh Qatar mendukung pendanaan terhadap ISIL (Islamic State of Iraq and Levant), sebuah kelompok yang dianggap dunia internasional sebagai terorist yang saat ini menguasai sebagian wilayah Iraq dan Suriah. Dengan adanya hubungan baik dengan kelompok-kelompok tersebut, Qatar setidaknya memiliki 2 keuntungan secara diplomasi yaitu (1) Qatar dapat mengontrol kelompok tersebut. Qatar dapat meminta kelompok tersebut untuk melakukan sesuatu seperti membebaskan tawanan, menghentkan suatu tindakan yang dianggap berbahaya dan lainnya. Jika permintaan Qatar tersebut tidak dipenuhi, maka Qatar akan memutuskan hubungan dengan kelompok tersebut dan tentu saja kelompok tersebut sangat tidak ingin kehilangan Qatar yang mungkin merupakan satu-satunya sahabat baik mereka. (2) Qatar akan dibutuhkan oleh negara lain dalam hal yang berhubungan dengan kelompok-kelompok tersebut diatas. Contoh nyata adalah ketika kelompok tersebut menawan warga asing, maka pemerintah negara dari warga yang ditawan tersebut akan meminta bantuan Qatar dalam proses pembebasan tahanan. Dengan demikian, Qatar akan menjadi sangat penting bagi negara lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: