BUDAYA PEMBIARAN TERHADAP HAL-HAL YANG BERISIKO MENIMBULKAN KONFLIK

IMG_1863

Suatu hari saya berpergian bersama beberapa teman kantor, dari Palembang menuju ke salah satu ibukota kabupaten yang berbatasan dengan kota Palembang. Disepanjang jalan yang kami lintasi, terdapat aliran sungai kecil yang sebagian pinggirannya mulai dipenuhi oleh bangunan-bangunan semi permanen untuk tempat tinggal warga. Ditengah perjalanan, salah satu teman yang memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempat saya berkerja , mulai memecah keheningan dengan berkata: “Lihat cik, lihat sebela kiri jalan itu. Beberapa tahun silam sepanjang pinggiran sungai itu bersih tanpa ada bangunan rumah warga. Sekarang rumah warga mulai menjamur. Kita tau kan bahwa daerah aliran sungai seperti itu dilarang untuk didirikan bangunan, tapi kenapa masih dibiarkan oleh pemerintah. Nanti ketika rumah warga sudah banyak dan kehidupan mereka sudah bergantung dengan lingkungan itu, pemerintah mulai menggusur mereka dengan alasan bangunan rumah mereka dianggap bangunan liar. Bayangkan, bagaimana gejolak yang akan terjadi nanti”

Mendengar ucapan teman tadi, saya hanya berkata “iya ya, benar juga ya pak”. Perkataan saya memang singkat, tapi sesungguhnya didalam fikiran saya cukup banyak. Sambil melintasi jalan tersebut, saya terus berfikir terkait ucapan teman tadi. Dalam benak saya berkata “ Ini adalah salah satu dari sekian banyak budaya buruk bangsa indonesia. Inilah yang membuat bangsa ini belum mulai untuk menuju maju. Negara ini tidak bisa membuat rencana besar dalam pembangunan karena bertabrakan dengan kondisi sosial masyarakat yang sesungguhnya salah namun terlanjur ada karena adanya pembiaraan oleh pemerintah pada awal kondisi itu dimulai. Bangunan disekitar sungai ini pastilah nantinya menyebabkan banjir. Ketika pemerintah membangun perencanaan untuk menghentikan banjir tersebut dengan membongkar bangunan-bangunan disekitar sungai, pemerintah akan berhadapan dengan situasi sulit karena adanya penolakan dari warga yang telah menggantungkan hidupnya di lokasi tersebut. Sudah pasti akan timbul kegaduhan dimasyarakat.”

Kini 7 bulan setelah itu, Saya berfikir tentang perang yang sedang terjadi di Yaman dimana saat ini Pasukan koalisi 10 negara yang dipimpin oleh Arab Saudi sedang melakukan serang udara ke posisi pemberontak Houthi atas permintaan presiden Yaman yang pemerintahannya diambang kejatuhan. Kelompok pemberontak Houthi adalah pemberontak syiah yang didukung oleh Iran. Jadi sejatinya konflik di yaman adalah antara Muslim Sunni melawan syiah. Saya berfikir tentang hal serupa juga terjadi di Syria, bedanya di Syiria pemerintahnya yang Syiah sedang pemberontaknya adalah Sunni. Oleh karena itu, negara-negara Islam di Timur Tengah tidak berani melakukan serangan ke Syiria karena dianggap menyerang negara. Jika itu dilakukan, maka akan terjadi perang antar negara dan besar kemungkinan akan melibatkan negara-negara besar yaitu Amerika dan Eropa mendukung negara-negara teluk yang pro pemberontak, sedangkan China dan Rusia bersama Iran yang pro pemerintah Syiria.

Dalam benak saya bertanya, “Mungkinkah perang antara Muslim Sunni melawan Syiah yang sedang terjadi di Syiria dan Yaman itu juga berawal dari pembiaran terhadap penyebaran paham syiah rafidah Iran di negara tersebut beberapa dekade silam?” Saya merasa miris dengan apa yang terjadi di Syiria, kenapa bisa terjadi sebuah pemerintahan dipimpin oleh orang syiah sedangkan rakyatnya mayoritas Muslim Sunni. Saya menduga mungkin pada awal orang syiah mulai melakukan gerakan politik untuk menguasai Syria, masyarakat dan pemerintah Syiria melakukan pembiaran. Begitu juga di Yaman, kenapa bisa kelompok syiah Houthi bisa memiliki persenjataan yang banyak dan canggih. Saya juga menduga, mungkin dulu adanya pembiaran dari pemerintah Yaman terhadap perkumpulan syiah yang ternyata membahas tentang rencana gerakan untuk menguasai Yaman.”

Saya juga berfikir akan kemungkinan pembiaran serupa juga sedang terjadi di Indonesia. Fikiran saya ini bukan muncul dari ketakutan akan terjadinya konflik Muslim Sunni melawan Syiah di Indonesia sebagaimana yang terjadi di Syiria dan Yaman. Fikiran ini muncul dari banyaknya berita di media sosial yang menunjukkan semakin kuat eksistensi syiah di Indonesia. Sebagai contoh, minggu lalu saya membaca tautan yang memberitakan tentang adanya buku sekolah yang menceritakan tentang silsilah sahabat dimana Umar dilambangkan dengan gambar babi. Saya teringat tentang syiah yang memang selalu mencelah para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar dan Usman. Malam ini saya membaca tautan yang memberitakan bahwa Kepala BNPT dan sejumlah pejabat Kemenag menghadiri peringatan hari jadi ke 2 Organisasi Ahlul Bait Indonesia, sebuah organisasi syiah.

Kejadian-kejadian diatas menunjukkan kemungkinan besar sedang terjadi pembiaran berkembangnya paham syiah di Indonesia. Nanti, beberapa dekade kemudian, akan munculnya kekuatan besar syiah di Indonesia dan bukan tidak mungkin akan terjadi konflik sebagaimana yang sedang terjadi di Syiria dan Yaman. Kondisi ini berbeda sekali dengan apa yang terjadi di negara tetangga Malaysia dan Brunei Darussalam dimana aktifitas penyebaran ajaran syiah dilarang oleh Pemerintah. Dengan demikian, Malaysia dan Brunei Darussalam telah memitigasi risiko konflik dimasa mendatang.

–selesai–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: