KEARIFAN DESA YANG MULAI HILANG

Dulu sewaktu aku masih kecil, aku masih menjumpai dan merasakan indahnya kearifan desa. Aku masih ingat betul bagaimana semangat untuk membantu sesama itu sangat kental dimasyarakat desaku. Jika ada warga yang akan menanam padi, maka para tetangga dan keluarga turut membantu menanam padi bersama-sama. Mereka tidak diberikan imbalan sedikitpun kecuali hanya diberi makan bubur kacang yang dimakan bersama-sama diladang.

Jika ada warga yang mengadakan hajatan seperti menikahkan anak atau pesta syukuran, maka hampir seluruh warga desa terlibat membantu. Para lelaki yang mendirikan bangsal (semacam tenda yang terbuat dari kayu, diikat dengan rotan dan diatapi dengan terpal). Para perempuan membantu memasak makanan, para bujang gadis menata bangsal dengan hiasan-hiasan warna warni dari kertas minyak. Anak-anak pun tidak ketinggalan membantu dengan cara mencabut bulu ayam yang telah disembelih dan dicelupkan dengan air panas.

Aku masih ingat betul, bahwa ketika ada orang luar yang datang baik itu warga desa lain ataupun orang kota, baik mereka sebagai musafir, pedagang, ataupun para mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), maka orang-orang desa sangat senang membantu mereka. Begitu juga jika ada kegiatan membangun infrastruktur desa seperti tangga batu untuk warga menuruni sungai, maka masyarakat desa secara bersama-sama memberikan kontribusi, baik berupa tenaga, uang atau material bangunan.

Yang paling aku rindukan dan saat ini masih diterapkan oleh beberapa masyarakat adalah tradisi saling memberi kue untuk berbuka puasa. Dulu aku sering disuruh oleh ibu untuk mengantar kue yang dibuat sendiri ke beberapa kerabat dengan membawa rantang yang bertingkat-tingkat. Dan ketika pulang, rantang yang saya bawa telah berisi bermacam kue yang diberikan oleh kerabat yang kami beri kue tadi.

Tapi kini semua itu berangsur-angsur mulai hilang dan diperkirakan dalam beberapa waktu yang tidak lama lagi akan benar-benar hilang. Kearifan desa tersebut digantikan oleh budaya asing yang mementingkan individualisme dan menjadikan uang sebagai motif untuk berbuat sesuatu. Sungguh sangat disayangkan tradisi yang indah nan luhur yang diwariskan oleh nenek moyang kita hanya akan menjadi cerita kenangan untuk anak cucu kita kelak.

–selesai–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: